Suara.com - Pelacakan kontak dekat atau contact training dilakukan terhadap orang-orang yang diperkirakan pernah bertemu dengan pasien konfirmasi positif Covid-19 maupun probable.
Dalam revisi ke-lima panduan Covid-19 yang disusun pemerintah, ada beberapa kriteria di mana orang bisa dikategorikan menjadi kontak dekat pasien Covid-19.
"Pertama, kontak dekat tatap muka tanpa perlindungan, tanpa menggunakan masker atau pun face shield dengan kasus konfirmasi atau probable," kata Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dalam konferensi visual BNPB, Kamis (16/7/2020).
Yuri menambahkan, tatap muka itu terjadi pada jarak satu meter dan dalam waktu lebih dari lima belas menit.
"Apabila ini dilakukan maka orang yang bersangkutan masuk kriteria orang kontak dekat. Karena bagaimana pun juga memiliki risiko tertular covid," katanya.
Kriteria kedua, yaitu melakukan sentuhan fisik secara langsung dengan orang yang telah konfirmasi positif atau probable. Yuri mencontohkan, sentuhan fisik bisa berupa bersalaman atau pun berpegangan tangan.
Kemudian kriteria ketiga, orang yang memberikan perawaran langsung terhadap pasien yang positif atau konfirmasi covid-19 tanpa menggunaan APD yang memenuhi syarat.
"Ini penting karena dalam survey epidemiologi kelompok ini harus mendapat perhatian khusus," ujarnya.
Yuri juga menjelaskan, pada kasus orang konformasi atau probable yang bergejala, kontak erat dihitung dari dua hari sebelum pasien timbul gejala hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.
Baca Juga: INFOGRAFIS: Istilah Baru Status Pasien Covid-19 di Indonesia
"Ini adalah periode untuk melakukan isolasi mandiri pada orang dengan kontak dekat," ucap Yuri.
Sedangkan pada kasus konfirmasi tidak bergejala, untuk menemukan kontak erat dihitung dari dua hari sebelum sampai dengan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen pasien.
"Inilah kelompok yang harus diteliti dengan jelas saat traicing dilakukan dengan masif. Pasti akan dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan," ujar Yuri.
Berita Terkait
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
-
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance