Suara.com - Orang yang telah sembuh dari virus corona dapat memiliki kekebalan hingga enam bulan, kata ahli epidemiologi terkemuka Swedia. Dr Anders Tegnell. Ia merupakan orang yang menerapkan taktik kontroversial 'kekebalan kawanan' atau herd immunity di negara tersebut.
Andres mengatakan, sejauh ini belum ada laporan kasus orang jatuh sakit dengan Covid-19 dua kali. Berbicara pada konferensi pers di Stockholm pada hari Selasa, Dr Tegnell mengatakan bahwa timnya sekarang telah menyimpulkan bahwa orang-orang cenderung kebal selama setengah tahun - terlepas dari apakah antibodi muncul dalam sistem mereka atau tidak.
"Oleh karena itu penilaian kami adalah bahwa jika Anda mendapatkan Covid-19 Anda kebal, bahkan jika Anda tidak mengembangkan antibodi," kata Dr Tegnell seperti dilansir dari Metro UK.
Badan Kesehatan Masyarakat Swedia sendiri telah mengeluarkan pedoman baru yang menyatakan bahwa orang yang telah pulih dari virus dapat melakukan kontak dengan orang lain dalam kelompok berisiko tinggi, asalkan mereka mematuhi aturan jarak sosial.
Swedia menarik perhatian dunia karena memilih untuk tidak memaksakan tindakan penguncian yang ketat. Sebaliknya mereka meminta masyarakat untuk tinggal di rumah jika mereka tidak sehat dan untuk berlatih menjaga jarak sosial di depan umum.
Ketika kasus memuncak, bar, restoran dan toko tetap terbuka. Swedia telah mencatat sebanyak 78.000 kasus positif dan 5.600 kematian dikonfirmasi. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada negara tetangga Denmark yang telah mencapai 600 kematian dan total 13.000 kasus positif.
Komentar Dr Tegnell kemungkinan akan menimbulkan kontroversi, karena para ilmuwan dan pejabat kesehatan ragu-ragu untuk memberikan pernyataan konkret tentang kekebalan saat penelitian masih dalam tahap awal.
Namun, para peneliti di King's College London menyarankan bahwa kekebalan Covid-19 hanya dapat bertahan beberapa bulan dan virus tersebut dapat ditangkap lagi.
Sebuah studi baru-baru ini juga menemukan bahwa pengujian sel-T bisa menjadi cara yang lebih akurat untuk menganalisis respons antibodi pasien terhadap coronavirus. Sejauh ini, para ilmuwan telah menggunakan tes antibodi.
Baca Juga: Sebanyak 5 Karyawannya Terpapar Covid-19, Klinik Multazam Terpaksa Ditutup
Bulan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan Swedia ke dalam daftar 11 negara Eropa yang mengalami 'kebangkitan sangat besar' virus corona. Namun pejabat kesehatan setempat membantahnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya