Suara.com - Pemeriksaan suhu tubuh menjadi salah satu protokol kesehatan yang banyak diterapkan untuk skrining orang dengan gejala Covid-19, yaitu demam. Cara ini dilakukan di berbagai tempat umum, mulai dari mal, restoran, taman bermain, hingga tempat kerja.
Namun, peneliti meragukan cara ini cukup efektif dilakukan di tempat kerja. Hal ini mengingat tidak semua mereka yang terinfeksi Covid-19 menunjukkan gejala demam.
Dilansir dari Huffpost, menurut sebuah studi dalam Journal of American Medical Association, dari 5.700 orang yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 di New York antara Maret dan April, hanya 30,7% yang menunjukkan gejala demam.
Orang yang tidak menunjukkan gejala demam bisa saja menularkan Covid-19. Hal ini seperti yang dicatat oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO untuk para pelancong di bandara, “Pemeriksaan suhu saja, saat keluar atau masuk, bukanlah cara yang efektif untuk menghentikan penyebaran Covid-19 secara internasional, karena orang yang terinfeksi mungkin berada dalam masa inkubasi.”
Meski demikian, pemeriksaan suhu bisa sedikit membantu dalam melakukan skrining di tempat kerja.
Menurut Kartik Cherabuddi, seorang profesor klinis penyakit menular di University of Florida, tiga hal yang terpenting dalam pencegahan Covid-19 adalah skrining gejala, APD (alat pelindung diri) atau memakai masker, dan memeriksa suhu tubuh.
Cherabuddi mengatakan bahwa para pengusaha cenderung fokus pada skrining demam saja karena pengukuran suhu terasa objektif. Tetapi, pemeriksaan suhu tubuh tidak menangkap gejala ringan yang lebih umum Cherabuddi lihat pada pasien, seperti kelelahan, sakit kepala ringan, sakit otot, dan tenggorokan gatal.
"Hanya pemeriksaan demam saja akan memberi Anda rasa aman yang salah. Kalau saya sakit kepala dan sakit otot, tapi saya tidak demam, jadi saya bisa bekerja," katanya.
Skrining gejala yang lebih komprehensif untuk karyawan akan mengidentifikasi gejala-gejala yang lebih ringan, katanya. Seseorang yang mengungkapkan bahwa mereka tidak tidur nyenyak tadi malam atau sakit kepala ringan, misalnya, dapat diminta untuk memakai masker, menjaga jarak sosial, memantau gejalanya selama beberapa jam, dan pulang ke rumah jika mereka gejala bertambah buruk.
Baca Juga: Canggih, Alat Pengukur Suhu Tubuh Buatan Dosen UGM Ini Pakai Pemindai Wajah
Tetapi ada batasan untuk apa yang dapat ditangkap oleh skrining gejala. Untuk karyawan pra-gejala atau asimtomatik, Cherabuddi mengatakan, memiliki karyawan menjaga jarak adalah kunci karena itu satu-satunya cara untuk mencegah penularan ketika tidak ada cara lain untuk mengetahui apakah seseorang memiliki virus.
Skrining demam adalah pencegahan sekunder. Namun yang paling penting adalah mempromosikan tempat kerja yang sehat.
Zeke McKinney dari HealthPartners RiverWay Clinic di Minnesota, menyebut bahwa skrining demam sebagai strategi pencegahan sekunder. Pencegahan utama adalah meminta karyawan mengenakan masker dan menjaga jarak fisik, katanya, dan memahami bahwa tindakan yang mereka lakukan di luar pekerjaan juga penting untuk mencegah penyebaran Covid-19 di tempat kerja.
Pengusaha juga sebaiknya tidak menekan karyawannya untuk bekerja saat mereka sakit. Sebagaimana American College of Occupational and Medicine Medicine jabarkan dalam rekomendasinya, “Cuti sakit berbayar direkomendasikan untuk mengurangi kemungkinan pekerja dengan Covid-19 datang ke tempat kerja.”
Dengan kata lain, untuk memastikan tempat kerja sehat, karyawan tidak boleh ditekan untuk tetap bekerja saat mereka merasakan gejala Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia