Suara.com - Normalnya, haid berlangsung dalam siklus yang hampir sama setiap bulannya, yaitu antara 21-35 hari. Namun faktanya, ada perempuan yang mengalami haid lebih cepat atau lebih lambat daripada siklus tersebut. Akibatnya, mereka mengalami haid tidak teratur.
Banyak perempuan mengabaikan haid tidak teratur. Padahal, kondisi ini bisa berdampak pada banyak hal, misalnya menyebabkan masalah kesuburan, hingga masalah kesehatan.
Lalu, apa penyebab haid tidak teratur? Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab haid tidak teratur yang perlu Anda tahu, seperti dilansir dari NHS.
1. Penggunaan alat kontrasepsi
Beberapa alat kontrasepsi, terutama yang mengandung hormon, cenderung mengganggu kestabilan hormon reproduksi dalam tubuh.
Beberapa jenis pil KB, misalnya, diketahui dapat menyebabkan bercak antar periode haid dan membuat haid menjadi lebih sedikit dan berlangsung singkat.
Sedangkan IUD bisa menyebabkan perdarahan hebat saat haid dan membuat haid lebih lama.
2. Menyusui
Hormon prolaktin yang bertanggung jawab dalam produksi ASI bisa membuat Anda tidak haid atau mengalami haid yang sangat ringan dan sebentar. Tapi, efek hormon prolaktin ini cuma sementara, kok. Haid akan segera kembali normal setelah Anda berhenti menyusui.
3. Stres
Kadar hormon kortisol di dalam tubuh meningkat saat stres, yang secara tidak langsung akan memengaruhi produksi hormon reproduksi yang mengatur siklus haid. Akibatnya, proses pelepasan sel telur (ovulasi) jadi tidak normal yang berujung pada terganggunya siklus haid.
Baca Juga: Perempuan Wajib Tahu, Ini Tanda Siklus Haid yang Normal
4. Perimenopause
Ini adalah fase transisi sebelum seorang perempuan memasuki masa menopause. Perimenopause biasanya dimulai pada usia 40-an, meski bisa saja terjadi lebih awal, dan dimulai dengan perubahan pada siklus haid. Tingkat estrogen yang berfluktuasi selama waktu ini dapat menyebabkan siklus haid menjadi lebih lama atau lebih pendek.
5. Masalah tiroid
Tiroid yang kurang aktif dapat menyebabkan periode haid menjadi lebih lama dan lebih berat. Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa 44 persen wanita peserta studi yang mengalami ketidakteraturan haid ternyata juga memiliki kelainan tiroid.
Hipotiroid, atau tiroid yang kurang aktif, dapat menyebabkan periode haid menjadi lebih lama, lebih berat, dan peningkatan PMS.
Sedangkan hipertiroid atau tingginya tingkat hormon tiroid, dapat menyebabkan periode haid menjadi lebih pendek dan ringan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat