Suara.com - Setelah enam bulan lebih Indonesia bergulat untuk menangani virus corona, jumlah kasus harian masih relatif meningkat. Sejumlah ahli dan praktisi menyatakan bahwa merujuk kepada data-data yang ada, sejauh ini Indonesia terbilang masih pada fase awal pandemi.
Pasalnya, jumlah kasus penyebaran dan penularan virus corona belum surut. Hingga hari ini kasus positif mencapai lebih dari 155 ribu orang dengan angka kematian melebihi 6.700 orang.
Jumlah kematian itu membuat Indonesia menempati peringkat ke-18 dunia.
“Mungkin kalau untuk data kasus aktif Covid-19, seolah tampak sudah melandai kasus aktifnya. Tapi ini lebih disebabkan karena pada Juni 2020, Indonesia akhirnya mengadopsi standar WHO untuk discharge pasien,” kata Pendiri KawalCovid-19 Ainun Najib, dalam diskusi publik yang diselenggarakan Katadata.co.id x KawalCovid-19 bertajuk “Enam Bulan Covid-19 di Indonesia, Kapan Berakhirnya?” Kamis, (3/9/2020).
Ainun menjelaskan pula bahwa seluruh lapisan masyarakat tetap harus terus menjaga kewaspadaan terhadap penyebaran virus corona. Pasalnya, positive rate tes Covid-19 di Indonesia masih menunjukkan peningkatan.
Positive rate menunjukkan, dari sekian tes yang dilakukan maka seberapa besar dari oknum yang dites yang kembali positif Covid-19. KawalCovid-19 menyebutkan, positive rate pada Juni sebesar 11,79 persen, angka ini terus merangkak pada Juli (13,36 persen) dan Agustus (15,42 persen). Catatan saja, per Agustus 2020 terdapat sekitar 430.645 orang yang sudah diperiksa.
“Ini mengkhawatirkan. Naiknya positive rate menunjukkan dua hal, yaitu wabah Covid-19 terus menyebar di masyarakat. Dan, kapasitas tes kita belum bisa menyamai kecepatan peningkatan penyebaran wabah. Harusnya rate ini bisa dijaga stabil pada angka serendah mungkin,” ucap Ainun.
Merespons kondisi yang ada, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Kolonel CKM (Purn.) dr. Achmad Yurianto mengutarakan bahwa pemerintah dengan menggandeng berbagai pihak terkait terus bekerja keras menerapkan strategi pengendalian penyebaran Covid-19.
Terdapat empat strategis yang diterapkan, yaitu tes, pelacakan, isolasi, dan pengobatan/penanganan (test, trace, isolate, dan treat).
Baca Juga: Gelombang Kedua Virus Corona Hantam Turki, Gara-gara Pesta Pernikahan?
“Adaptasi kebiasaan baru atau new normal, tidak hanya pada perubahan perilaku tetapi secara sistem kita juga harus melakukan peningkatan kewaspadaan dan kesadaran diri terhadap protokol kesehatan. Prediksi apapun tak berguna jika tidak diikuti dengan upaya komprehensif dari sistem surveilans dan dari kapasitas sistem kesehatan kita,” ucap Achmad Yurianto.
WHO menyebut, surveilans kesehatan masyarakat merupakan proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistemik serta terus menerus. Pada saat yang sama, dilakukan pula penyebaran informasi secara terus menerus kepada unit yang membutuhkan agar dapat mengambil tindakan yang tepat.
Yurianto juga menekankan, kondisi pandemi di Tanah Air tidak bisa dikatakan paling buruk maupun paling baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Namun yang pasti, imbuhnya, terus ada sejumlah tantangan dalam penanganan Covid-19 di Indonesia.
Beberapa di antaranya, seperti belum maksimal pelaksanaan penyelidikan epidemologi kasus dan contact tracing. serta soal kapasitas laboratorium dan rumah sakit yang belum merata.
“Pemeriksaan laboratorium yang digunakan sebagai standar realtime PCR, tidak seperti pemeriksaan gula darah yang di mal saja bisa. Mesti ada SDM laboratorium yang mesti disiapkan,” ucap Achmad Yurianto.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak