Health / Konsultasi
Rabu, 09 September 2020 | 09:26 WIB
Ilustrasi hari olahraga nasional. (Pexels)

Suara.com - Hari Olahraga Nasional atau Haornas diperingati setiap tahunnya pada 9 September.

Tahun ini, akibat pandemi Covid-19, Haornas 2020 diperingati secara virtual dengan tema Sport Science, Sport Industry, dan Sport Tourism. Sebelum dinamakan Haornas, dulu disebut sebagai Pekan Olahraga Nasional (PON).

PON diadakan pertama kali di Surakarta selama 4 hari, dari tanggal 9 hingga 12 September 1948.

Mengutip situs Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), PON pertama waktu itu diresmikan oleh Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno dan penutupan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX selaku Ketua Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI).

Sebanyak 600 atlet bertanding di 9 cabang olahraga, di antaranya atletik, bola keranjang, bulutangkis, sepakbola, tenis, renang (polo air), panahan, bola basket, dan pencak silat.

Sebagai tuan rumah, Solo hadir sebagai kota peraih medali terbanyak, yaitu 16 emas, 10 perak dan 10 perunggu, dengan total 36 medali yang berhasil diraih.

Hingga kini, PON masih terus diselenggarakan sebagai ajang 4 tahunan. Jika sebelumnya diadakan sebagai turnamen antar kota, PON kedua yang diselenggarakan di Jakarta pada 1951 diikuti oleh peserta antarprovinsi yang mengikuti 18 cabang lomba dengan kehadiran 2600 atlet.

Saat itu Jawa Barat hadir sebagai provinsi dengan peraih medali terbanyak, yakni 32 medali, dengan rincian 21 medali emas, 10 medali perak, dan 11 medali perunggu. Jika tak terkendala Covid-19, PON 2020 yang ke-20 rencananya akan diadakan di Papua sebagai tuan rumah.

Nah, yang menarik untuk diketahui terutama oleh generasi muda adalah mengenai sejarah Hari Olahraga Nasional. Seperti apa? Berikut ulasan lengkapnya.

Baca Juga: Hari Olahraga Nasional, Yuk Main Tenis untuk Tingkatkan Harapan Hidup

Cikal Bakal Hari Olahraga Nasional
Pascamerdeka dan sebelum diadakannya PON, Persatuan Olahraga Indonesia (PORI) ingin para atlet Indonesia berlaga di kancah internasional dengan mengikuti Olimpiade Musim Panas XIV London pada 1948.

Sayang, para atlet tanah air pada akhirnya tidak bisa berlaga karena kendala teknis, di mana saat itu PORI belum terdaftar sebagai anggota IOC atau Internasional Olympic Committee. Apalagi, status Indonesia dianggap belum jelas, karena masih berada di bawah bayang-bayang penjajahan Belanda.

Hal ini menjadikan para atlet nasional pun tidak bisa bertanding. Dan untuk mengobati kekecewaan, akhirnya PORI mengadakan ajang olahraga dalam negeri bertaraf nasional, yakni PON.

Pendanaan dan waktu yang terbatas sangat berat dirasakan panitia pelaksana saat itu, apalagi beberapa kali masih terjadi Agresi Militer Belanda ke Indonesia. Namun penyelenggaraan tetap dijalankan, dengan menghadirkan Soekarno sebagai pembuka acara PON pertama pada 9 September, yang akhirnya diperingati sebagai HAORNAS setiap tahunnya hingga saat ini.

Load More