Suara.com - Lemak di perut banyak dihindari orang, tak hanya membuat minder soal penampilan, lemak di perut juga diyakini membawa banyak penyakit. Namun hal itu tidak berlaku untuk lemak di kaki.
Menurut penelitian baru yang akan dipresentasikan 10-13 September 2020, di Sesi Ilmiah Hipertensi 2020 American Heart Association virtual, menemukan orang dewasa dengan kaki lebih gemuk (memiliki persentase jaringan lemak tubuh total yang lebih tinggi di kaki mereka) lebih kecil kemungkinannya memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.
"Meskipun kami tahu dengan pasti bahwa lemak di sekitar pinggang Anda merusak kesehatan, hal yang sama tidak berlaku untuk lemak di kaki. Jika Anda memiliki lemak di sekitar kaki, kemungkinan besar itu bukan hal yang buruk dan bahkan mungkin melindungi Anda dari hipertensi, menurut temuan kami," kata peneliti utama Aayush Visaria, MPH, mahasiswa kedokteran tahun keempat di Rutgers New Jersey Medical School di Newark, New Jersey.
Dilansir dari Medical Xpress, di sini para peneliti memeriksa tingkat tiga jenis tekanan darah tinggi dalam kaitannya dengan persentase jaringan lemak di kaki pada hampir 6.000 orang dewasa yang terdaftar dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan & Gizi Nasional 2011-2016.
Usia rata-rata peserta adalah 37 tahun, hampir setengahnya adalah perempuan dan 24% memiliki tekanan darah tinggi, yang didefinisikan sebagai tekanan darah> 130/80 mm Hg.
Dilakukan pemindaian sinar-X khusus untuk mengukur jaringan lemak di kaki dan dibandingkan dengan jaringan lemak tubuh secara keseluruhan. Peneliti kemudian mengklasifikasikan peserta memiliki persentase lemak kaki yang tinggi atau rendah, dengan lemak tinggi didefinisikan sebagai 34% atau lebih untuk pria, dan 39% atau lebih untuk wanita.
Partisipan dengan persentase lemak kaki yang lebih tinggi memiliki kemungkinan lebih kecil dibandingkan mereka yang memiliki kadar lemak rendah untuk mengalami semua jenis tekanan darah tinggi.
Analisis pen menemukan:
1. Dibandingkan dengan mereka yang memiliki persentase lemak tungkai lebih rendah, partisipan dengan persentase lemak tungkai lebih tinggi memiliki kemungkinan 61% lebih kecil untuk memiliki jenis tekanan darah tinggi di mana kedua angkanya meningkat.
Baca Juga: Sering Sakit Kepala di Pagi Hari? Bisa Jadi itu Tanda Tekanan Darah Tinggi!
2. Sedangkan risiko pada peserta dengan lemak tungkai lebih tinggi adalah 53% lebih rendah untuk tekanan darah tinggi diastolik dan 39% lebih rendah untuk tekanan darah tinggi sistolik.
Hasil analisis ini pun setelah disesuaikan dengan berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, ras dan etnis, pendidikan, merokok, penggunaan alkohol , kadar kolesterol dan lemak pinggang.
Dari semua faktor tersebut, risiko tekanan darah tinggi masih lebih rendah di antara peserta dengan persentase lemak tungkai lebih tinggi. Menurut peneliti, jika hasil ini dikonfirmasi oleh penelitian yang lebih besar dan lebih kuat, dan dalam penelitian yang menggunakan metode pengukuran yang mudah diakses seperti lingkar paha, ada potensi untuk memengaruhi perawatan pasien.
"Sama seperti lingkar pinggang yang digunakan untuk memperkirakan lemak perut, lingkar paha mungkin merupakan alat yang berguna, meskipun agak rumit dan tidak dipelajari secara luas di populasi AS," ujar Visaria.
Tapi sayangnya, ada beberapa keterbatasan yang memengaruhi hasil penelitian. Pertama, penelitian ini tidak dapat menentukan sebab dan akibat, karena informasi tentang tekanan darah dan persentase jaringan lemak di kaki diukur pada waktu yang bersamaan.
Kedua, kelompok peserta yang lebih besar diperlukan untuk menghasilkan lebih banyak informasi tentang efek pada tekanan darah tinggi dari berbagai tingkat jaringan lemak di kaki.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
Pilihan
-
Tragedi Gas Maut di TB Simatupang: 4 Nyawa Melayang dalam Toren, Proyek 8 Lantai Kini Senyap
-
Akses Jalan Diblokir, Warga Kepung Pesantren Darul Istiqamah Maros
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
Terkini
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak