Suara.com - Dr Umair Shah, Kepala Departemen Kesehatan Harris County, Texas, kembali mengingat terakhir kali kampanye vaksin massa dilakukan di Amerika Serikat. Momen itu terjadi pada tahun 2009 ketika flu babi H1N1 merebak pada bulan April, tempatnya akhir musim flu biasa.
"Kampanye vaksin itu sangat menantang. Seseorang butuh beberapa minggu hingga berbulan-bulan untuk melakukan aktivitas fisik dengan aman serta efektif," katanya, dikutip dari CNN.
Ia menggambarkan kondisi itu sebagai pandemi penyakit menular yang ringan. Tapi, wabah virus corona Covid-19 sekarang ini bukanlah pandemi ringan.
Ahli kesehatan masyarakat dan pemerintah federal semuanya yakin satu atau lebih dari vaksin Covid-19 yang sedang diuji sekarang akan terbukti bekerja dengan aman pada akhir tahun 2020. Tapi, kekuatan vaksin masih jauh dari tujuannya mengakhiri pandemi virus corona.
"Saya sangat optimis bahwa kita akan mendapatkan vaksinnya pada akhir tahun ini, saat kita memasuki awal 2021," kata Dr. Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.
Namun, setiap vaksin harus disetujui atau disahkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS pada tahap pertama. Karena itu adalah proses normal yang bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Meskipun FDA telah menjanjikan proses yang lebih cepat untuk vaksin virus corona Covid-19. Tapi, proses itu masih harus melalui Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi.
FDA pasti akan mengizinkan proses pintas yang dikenal sebagai otoritas penggunaan darurat atau EUA. Tapi, badan tersebut membutuhkan "EUA-plus" yang menambahkan setidaknya beberapa lapisan pengawasan.
"Tidak mungkin vaksin virus corona Covid-19 akan menerima persetujuan penuh dan distribusi luas segera. Sebaliknya, FDA mungkin akan mengesahkan vaksin untuk digunakan pada kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi dan mendapatkan manfaatnya dari vaksin tersebut," kata Dr. Mark McClellan dan Dr. Scott Gottlieb, keduanya mantan komisaris FDA.
Baca Juga: CDC: Studi Temukan Virus Corona Covid-19 Ada di AS Sejak Desember 2019
Artinya, vaksin virus corona Covid-19 tidak akan memberikan kekebalan kelompok yang bisa membantu menghentikan pandemi. Karena, hal itu akan membutuhkan waktu lama dan kemungkinan besar baru bisa tercapai tahun depan.
"Orang tidak bisa terbuai dengan rasa aman yang palsu dengan mengetahui vaksin akan datang," kata Dr. Marcus Plescia, kepala petugas medis Asosiasi Petugas Kesehatan Negara Bagian dan Teritorial.
Meski produsen sudah membuat takaran vaksin, tapi hal itu tetap membutuhkan waktu. AS kemungkinan besar akan membutuhkan waktu lebih dari 600 juta dosis vaksin, cukup bagi setiap orang untuk mendapatkan dua dosis vaksin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026