Suara.com - Dalam rangka memperingati World Contraception Day (WCD) atau Hari Kontrasepsi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 26 September, pelayanan kontrasepsi di Indonesia terus mendapat sorotan. Hal ini mengingat pandemi Covid-19 membuat akses terhadap fasilitas kesehatan mengalami penurunan. Dan hal ini juga berdampak pada penurunan jumlah akseptor Keluarga Berencana (KB) yang menjadi faktor terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan dengan presentasi hampir mencapai 17,5 persen.
Sedangkan untuk data dunia, United Nation Population Fund (UNFPA) pada Agustus 2020 mencatat 47 juta perempuan di seluruh dunia terancam tidak mendapatkan akses terhadap alat kontrasepsi. Akibat hal tersebut, diperkirakan terjadi lonjakan sebanyak 7 juta kehamilan yang tidak direncanakan selama pandemi Covid-19 di seluruh dunia.
"Dari Maret hingga Mei ada penurunan. Bulan Juni ada peningkatan signifikan dalam pelayanan karena pada saat itu kita adakan Hari Keluarga Nasional, targetnya sejuta akseptor perdaerah. Juli kembali agak turun lagi," jelas Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kepala BKKBN, Dr. Ir. Dwi Listyawardani, dalam konferensi pers secara virtual bersama BKKBN dan PT bayer Indonesia, Jumat (26/9/2020) di Jakarta.
Untuk itu, lanjut Dwi, untuk mengejar ketertinggalan, BKKBN melakukan beberapa langkah strategis dan cepat, seperti layanan kontrasepsi bagi satu juta akseptor dari rumah ke rumah di seluruh Indonesia; membuat sistem informasi secara masif dengan menggunakan multi-level networking mencakup 34 provinsi, 514 kabupaten, 23.400 penyuluh lapangan dan 1,2 juta kader; dan menggunakan teknologi digital seperti KlikKB dalam pemberikan konseling kontrasepsi.
Dalam melakukan pelayanan di tengah pandemi virus Covid-19, petugas kesehatan serta bidan wajib mengikuti prosesur keamanan yang telah ditetapkan, baik untuk melindungi dirinya sendiri dan para akseptor.
"Harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) tergantung metode kontrasepsinya. Kalau pil itu sederhana seperti masker dan sarung tangan. Tapi kalau terjadi kontak yang intens seperti IUD dan implan harus menggunakan hazmat," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga