Suara.com - Banyak orang ternama yang meninggal karena kanker. Kabar yang paling baru, Selasa (6/10/2020), musisi Eddie Van Halen baru saja berpulang karena kanker tenggorokan.
Kanker pada dasarnya adalah sejenis tumor ganas yang menyebar dan menginfeksi sel normal di organ tertentu.
Berbeda dengan tumor jinak yang memiliki dinding pembatas sehingga sel abnormal tidak menyebar, tapi pada tumor ganas, sel abnormal tidak memiliki dinding pembatas, yang akhirnya ia bisa menyebar dengan cepat.
Kemoterapi adalah salah satu pengobatan kanker yang paling diandalkan. Biasanya kemoterapi dilakukan sebanyak 4 siklus, 6 siklus, hingga 8 siklus untuk menurunkan sel kanker.
Namun, menurut dokter spesialis penyakit dalam sub spesialis hematologi-onkologi medik, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FACP, kemoterapi tidak bisa menyembuhkan kanker seutuhnya, karena obat antikanker hanya membasmi sel kanker yang sedang membelah diri.
"Jadi kemoterapi itu obatnya hanya bisa menyerang sel yang sedang membelah, yang sedang tidur tidak kena. Jadi dia bangun lagi, kita kasih lagi kemoterapi, bangun lagi kasih kemoterapi, sampai beberapa kali," ujar Prof Aru dalam diskusi bersama Yayasan Kanker Indonesia dan Kalbe beberapa waktu lalu.
Mirisnya, saat paket kemoterapi sudah dilakukan hingga 8 siklus sekalipun, sel kanker ini ternyata jumlahnya masih bisa meningkat drastis. Ini karena dalam satu gundukan sel tumor kanker ditempati lebih dari satu macam sel kanker.
Profesor yang berpraktik di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi ini mengumpamakan tumor kanker terdiri dari 3 jenis atau lebih sel kanker, lalu saat kemoterapi hanya membunuh 1 jenis sel dalam tumpukan sel kanker, dan 2 jenis atau sisa dari sel kanker akan bertumbuh lagi memperbanyak diri.
"Jenis sel kanker lain tetap hidup, jadi membentuk satu tumor lagi dengan sifat yang berbeda dari sel yang pertama. Itu sebabnya kita minta biopsi ulang kalau pasien datang lagi dalam keadaan relaps, padahal sudah dapat kemoterapi lengkap," terang Prof. Aru.
Baca Juga: 7 Fakta Eddie Van Halen, Musisi Rock Dunia yang Berdarah Rangkasbitung
Fenomena mengerikan lainnya adalah jika dalam satu gundukan tumor terdiri dari berbagai sel kanker, yang membelah lalu memecah diri lagi menjadi jenis sel kanker yang lain. Inilah yang menjadikan kanker sebagai penyakit yang sulit dibasmi, lalu akhirnya merenggut nyawa. "Apalagi kalau sampai sel kanker jadi populasi terpecah, inilah mengapa kanker sulit dibasmi," tutup Prof. Aru.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya