Suara.com - Jika selama ini ada anggapan jika pelarangan rokok bisa berdampak pada ekonomi masyarakat, dibandingkan dampak kesehatan yang tidak seberapa, Walikota Bogor Bima Arya Sugiharto berhasil membuktikan sebaliknya.
Hal ini terbukti dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Kota Bogor yang masih naik setiap tahunnya, meski gencar berkampanye larangan rokok pada anak di bawah 18 tahun.
"Rokok tidak ada di kota Bogor, kita melihat tidak ada hubungannya antara kebijakan kita melarang rokok dengan PAD kita. PAD kita naik, di 2014 PAD kota Bogor Rp 400 miliar, tahun ini (2020) Rp 1 triliun, tahun depan kita diprediksi Rp 1,1 triliun," ungkap Bima Arya dalam diskusi webinar, Rabu (7/10/2020).
Melalui angka ini Bima Arya menyimpulkan, tanpa rokok PAD rokok selalu naik Rp 100 miliar setiap tahunnya.
Kata dia, meski tanpa rokok sebagai gantinya sumber investasi lain berdatangan, termasuk produk kesehatan hingga perbankan.
"Jadi saya kira ini yang menjadi keyakinan kita, bahwa tidak ada hubungannya PAD dengan larangan terhadap rokok," tuturnya.
Dengan begini kata lelaki yang sudah menjabat 2 periode sebagai Walikota Bogor itu, menyarankan pemerintah daerah lainnya kembali memetakan seberapa besar kontribusi rokok terhadap keseluruhan pendapatan daerah.
Ini jugalah yang membuat pemda kota Bogor selalu mengajak kepala daerah lainnya untuk merumuskan peraturan daerah (Perda) tentang kawasan tanpa rokok (KTR), yang sudah lebih dulu dijalankan Bogor.
"Jadi betul-betul dihitung seperti apa, jadi jangan didasarkan asumsi-asumsi saja," kata dia.
Baca Juga: Bima Arya ke Industri Rokok: Jangan Macam-macam Sama Kota Bogor!
Bogor juga sudah menghilangkan segala bentuk promosi dan iklan rokok serta produk tembakau lainnya.
Larangan papan reklame rokok sudah dilarang dalam bentuk apapun, dan lagi-lagi tanpa pajak iklan dan sponsor dari rokok, Bogor tetap bisa bertahan dan maju.
"Jadi kalau di Kota Bogor sudah terbukti, hilangnya pajak reklame tidak berdampak pada turunnya PAD kota Bogor," tutup Bima Arya.
Berita Terkait
-
Kepadatan Kendaraan Menuju Puncak Bogor Meningkat 50 Persen, Satu Arah Diberlakukan Sejak Pagi
-
Studi Ungkap Nasib Puntung Rokok di Tanah Setelah 10 Tahun: Bisakah Terurai?
-
Misi Mencari Hilal Penerimaan Cukai: Karpet Merah Buat Rokok Ilegal Jadi Jawaban?
-
Batas Nikotin Diturunkan, Industri Kretek Disebut Bisa Kolaps
-
DPRD Kota Bogor Bahas Program dan Target PDAM Tirta Pakuan untuk Tahun 2026
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal