Suara.com - Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa anak dengan kelainan down syndrome memiliki risiko 10 kali lipat mengalami kematian akibat Covid-19 jika mereka terinfeksi.
Studi yang terbit dalam jurnal Annals of Internal Medicine ini juga menemukan peningkatan empat kali lipat risiko penderita dirawat inap, lapor CNN.
Analisis peneliti melibatkan lebih dari 8 juta orang dewasa yang menjadi bagian dari proyek penilaian risiko virus corona yang disponsori oleh pemerintah Inggris.
Mereka menemukan dari 8,26 juta orang dalam studi pelacakan, 4.053 menderita down syndrome. Dari jumlah tersebut, 68 orang penyandang disabilitas meninggal dan 40 persen tewas karena Covid-19. Sedangkan 17 meninggal karena pneumonia atau pneumonitis dan 35 persen meninggal karena sebab lain.
Jumlah tersebut dibandingkan dengan lebih dari 41 ribu pengidap down syndrome yang meninggal, tetapi hanya 20 persen yang meninggal akibat infeksi virus corona, 14 persen karena pneumonia atau pneumonitis, dan 65 persennya meninggal akibat hal lain.
Padahal, down syndrome tidak termasuk ke dalam kategori apa pun menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS atau kementerian kesehatan Inggris. Tidak sebagai kondisi yang akan meningkatkan risiko Covid-19.
"Namun itu terkait dengan disfungsi kekebalan, gagal jantung, dan patologi paru, dan mengingat prevalensinya, mungkin mungkin menjadi faktor risiko Covid-19 parah, meski belum dikonfirmasi," kata penulis studi.
Penelitian ini membuat Presiden dan CEO National Down Syndrome Society Kandi Pickard bersyukur karena akhirnya peneliti memfokuskan dampak Covid-19 terhadap penderita down syndrome.
"Sejak awal pandemi, kami prihatin dengan kelompok kami, terutama mengingat sejarah medis yang kompleks. Studi ini menegaskan kekhawatiran kami," ujar Kandi.
Baca Juga: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Beda Antara Autisme dan ADHD Pada Anak
Peneliti juga mengatakan bahwa kemungkinan penderita down syndrome mengalami kesulitan untuk memberi tahu orang lain ketika mereka tidak enak badan.
"Mereka mungkin mengalami kesulitan mengetahui apakah mereka bergejala atau bagaimana menjelaskannya. Karena alasan ini, mereka mungkin tidak menyampaikan kekhawatiran atau mencari perawatan medis dengan cepat," sambungnya.
Oleh karena itu, petugas orangtua atau terdekatnya perlu memperhatikan dan mewaspadai.
Berita Terkait
Terpopuler
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- Anggota DPR Habiburokhman sampai Turun Tangan Komentari Kasus Erin Taulany vs eks ART
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- 8 Sepatu Skechers yang Diskon di MAPCLUB, Bisa Hemat hingga Rp700 Ribu
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Studi Baru Temukan Mikroplastik di Udara Kota, Dua Pertiganya Berasal dari Sumber Tak Terduga
-
Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental
-
Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026
-
Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat