Suara.com - Serangan jantung terjadi ketika arteri yang memasok darah dan oksigen ke jantung tersumbat oleh penumpukan plak lemak yang disebut kolesterol.
Serangan jantung termasuk dalam kategori penyakit kardiovaskular (CVD), yang melibatkan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah. Serangan jantung termasuk kondisi mematikan yang harus dikenali gejalanya.
Salah satu gejala serangan jantung yang terabaikan adalah keseringan menguap. Jika Anda sering menguap bukan karena kurang tidur, hal ini bisa menjadi gejala masalah kesehatan lebih serius.
"Masalah medis paling umum terkait dengan keseringan menguap adalah kurang tidur, insomnia, sleep apnea, narkolepsi dan obat yang menyebabkan kantuk," jelas Musc Health dikutip dari Express.
Tapi, ada pula beberapa masalah medis yang menyebabkan seseorang sering menguap, termasuk pendarahan di sekitar jantung, tumor otak, multiple sclerosis, stroke, dan serangan jantung.
Meski begitu, keseringan menguap masih menjadi fenomena misterius jika dikaitkan dengan serangan jantung. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa menguap membantu meningkatkan oksigenasi darah dan pendinginan otak.
Pakar kesehatan telah memperingatkan bahwa orang yang menguap saat olahraga di panas terik matahari, itu bisa jadi risiko terkena serangan jantung.
Karena, mekanisme pendinginan yang ada di dalam tubuh tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yang bisa menandakan masalah kesehatan jantung.
Sebuah penelitian di National Library of Medicine National Institute of Health Amerika Serikat telah menyelidiki hubungan keseringan menguap dan termoregulasi.
Baca Juga: Ogah Vaksin Covid-19, Siap-siap Tak Bisa 'Hidup Normal', Kenapa?
"Kami meninjau bukti medis dan fisiologis yang menunjukkan bahwa keseringan menguap mungkin termasuk mekanisme termoregulasi," jelas studi tersebut.
Studi lain juga menganalisis respons termoregulasi yang berubah pada pasien gagal jantung ketika olahraga dalam cuaca panas. Hasilnya, pasien gagal jantung menunjukkan gangguan kapasitas termoregulasi selama pemanasan pasif.
"Ini adalah studi pertama yang memeriksa respons termoregulasi dan parameter keseimbangan panas pada pasien gagal jantung selama latihan fisik," jelasnya.
Temuan ini menjadi yang pertama kalinya menunjukkan kapasitas termoregulasi pada pasien gagal jantung terganggu selama latihan fisik, yang dikombinasikan dengan tantangan termal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
Pilihan
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
Terkini
-
Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter
-
Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi
-
Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?
-
Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar
-
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
-
Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat