Suara.com - Di tengah upaya berbagai pihak untuk mengendalikan dan menghentikan pandemi Covid-19, ada saja oknum yang menyebarkan berita atau informasi palsu tentang penyakit tersebut. Hal ini tentu menganggu penanganan pandemi di seluruh dunia.
Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengingatkan tentang bahaya infodemik di tengah pandemi Covid-19, yang justru melemahkan pengendalian pandemi yang sedang diperjuangkan seluruh negara di dunia.
Infodemik adalah informasi yang berlebihan dan terus menerus terhadap masalah, sehingga mengganggu proses pencarian solusi dari masalah tersebut. Salah satu dampak infodemik adalah masifnya peredaran berita hoax.
Sadar jadi platform yang mampu menjangkau khalayak luas, kini YouTube meluncurkan panel khusus cek fakta di Indonesia. Berdasarkan siaran pers yang diterima suara.com, Selasa (1/12/2020) panel ini berfungsi sebagai pendamping konten yang bertebaran di YouTube sehingga pengguna bisa menilai benar tidaknya suatu konten.
Sebelum di Indonesia panel informasi cek fakta ini, sudah ada lebih dulu di Brasil, India, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat.
"Beberapa tahun belakangan, kami terus bekerja keras untuk meningkatkan pengalaman penonton dalam mendapatkan berita aktual dan dari sumber otoritatif, baik dari ketersediaan Breaking News dan Berita Teratas (Top News) di halaman beranda YouTube, hingga panel informasi cek fakta ini," terang YouTube
Cara kerja panel informasi cek fakta ini akan memberikan berita pembanding kepada pengguna, yang lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Seperti misalnya, ramai berita hoax orang tinggi lebih berisiko terinfeksi Covid-19. "Panel informasi cek fakta kami dapat memberikan konteks segar dalam situasi seperti ini dengan menyoroti cek fakta pihak ketiga yang relevan di atas hasil penelusuran untuk pertanyaan yang relevan, sehingga penonton kami dapat membuat keputusan cerdas mereka sendiri tentang klaim yang dibuat dalam berita," jelas YouTube.
Sehingga dengan sendirinya berita yang lebih bisa dipertanggungjawabkan bisa lebih banyak dibaca dan dikonsumsi publik.
Baca Juga: Aktivitas Anies Selama Sepekan Sebelum Terpapar Covid-19
Ini karena YouTube akan menyodorkan konten berita cek fakta yang sudah dilakukan pihak ketiga, menggunakan narasumber yang bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya.
"Mulai hari ini, orang-orang di Indonesia akan melihat verifikasi informasi dari organisasi lokal terkait dan terpercaya dalam Bahasa Indonesia muncul diatas pertanyaan semacam ini," sambung YouTube.
Adapun para pihak yang berkontribusi dalam panel ini antara lain CekFakta.com, sebuah platform pengecekkan fakta yang bekerjasama dengan lebih dari 24 organisasi media. Termasuk seluruh 6 penandatangan the International Fact-Checking Network (IFCN) dari Indonesia.
Sayangnya, panel ini tidak bisa bekerja maksimal apabila penerbit belum mempublikasi cek faktanya. Sehingga cek fakta hanya akan muncul ketika orang mencari klaim spesifik. Misalnya, jika seseorang mencari 'apakah gempa baru saja terjadi di Jakarta', mereka mungkin akan melihat artikel cek fakta yang relevan.
Tetapi jika mereka mencari pertanyaan yang lebih umum seperti 'gempa', pengguna mungkin tidak bisa melihat artikel cek fakta yang relevan. Semua artikel cek fakta juga harus patuh pada Panduan Komunitas, dengan pengguna yang dapat mengirimkan masukan kepada tim.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan