Suara.com - Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menyampaikan kekecewaannya saat mendapati data peta zona risiko Covid-19 per 29 November 2020 yang berwarna merah bertambah hampir dua kali lipat.
"Saya sangat kecewa karena pada minggu ini jumlah kabupaten kota yang berwarna merah bertambah hampir dua kali lipat dari minggu sebelumnya. Selain itu jumlah daerah yang berada di zona hijau pun semakin menipis," ujar Prof. Wiku saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (1/12/2020).
Seharusnya peta zona ini menjadi cerminan bagaimana masyarakat maupun pemerintah dan semua pihak bisa bersikap, dan kembali memperkuat pengendalian Covid-19 di Indonesia, bahkan bisa jadi cambukkan keras.
"Keadaan ini harus menjadi cambukan keras bagi kita untuk terus memperbaiki diri sebagai masyarakat. Jangan pernah abai karena cepat atau lambat Anda akan menjadi penderita. Pakai masker jika lengah dalam memproteksi diri atau lingkungan ataupun keluarga Anda," ungkap Prof. Wiku.
Pemerintah pusat dan daerah juga kata Prof. Wiku punya tugas berat untuk kembali melakukan evaluasi penegakkan protokol kesehatan. Seperti menjalani prosedur 3M, memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
Bahkan aksi 3T oleh pemerintah daerah juga harus dikuatkan dan ditingkatkan, yaitu tracing (penelusuran kontak), testing (melakukan tes Covid-19 orang yang masuk kategori suspek), dan treatment (penanganan berupa isolasi mandiri, isolasi di rumah sakit atau dirawat dengan pengobatan).
Jika melihat standar yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia atau WHO, berdasarkan kepadatan penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa, maka harusnya Indonesia perlu melakukan tes Covid-19 dengan swab test PCR (polymerase chain reaction) sebanyak 267.000 orang setiap minggunya.
Pemerintah harus kembali memperkuat dan mengevalusi 3T yang sudah dijalankan, dan memastikan 3M bisa ditegakkan di masyarakat. Bahkan kata Prof. Wiku, pemda jangan ragu untuk memberikan sanksi kepada masyarakat yang melanggar.
"Penegakan disiplin dan pemberian sanksi kepada masyarakat, yang tidak mematuhi protokol kesehatan sesuai dengan peraturan dan tanpa pandang bulu," tutupnya.
Baca Juga: Pasien Covid-19 di Jateng Tinggi, Tapi Pertumbuhan Pasien Sembuh Meningkat
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan