Health / Konsultasi
Sabtu, 12 Desember 2020 | 08:17 WIB
Ilustrasi wajah pria. (Pixabay)

Suara.com - Sebuah dokumen yang dirilis pada 8 Desember, menjelang pertemuan Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Terkait (VRBPAC) pada 10 Desember, mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang vaksin Pfizer Covid-19.

Dilaporkan empat orang yang mendapat vaksin Pfizer mengembangkan Bell palsy, suatu kondisi kelumpuhan wajah sementara. Menurut laporan tersebut, regulator FDA AS telah mencatat bahwa masih belum jelas bagaimana Bell's palsy disebabkan pada relawan ini karena vaksin Pfizer.

Dilansir dari The Health Site, regulator AS menekankan bahwa dokter harus memantau dengan cermat efek samping vaksin dan terus mengamati berapa banyak orang yang terkena.

FDA tidak menemukan masalah keamanan utama dalam peninjauannya terhadap vaksin Pfizer, termasuk tidak ada reaksi alergi dari jenis yang dilaporkan di Inggris. Tetapi penelitian semacam itu tidak dapat mendeteksi masalah langka yang mungkin hanya memengaruhi sebagian kecil dari populasi umum.

Peninjau FDA mencatat empat kasus Bell's palsy yang semuanya terjadi di antara orang yang mendapatkan vaksin. Mereka menyimpulkan bahwa kasus tersebut kemungkinan besar tidak terkait dengan vaksin karena terjadi pada tingkat yang diharapkan tanpa intervensi medis.

Ilustrasi wajah pria. (Pixabay)

Namun badan tersebut mengatakan kasus gangguan saraf harus dilacak, mengingat vaksin lain dapat menyebabkan masalah tersebut.

Bell's palsy juga dikenal sebagai "kelumpuhan wajah akut yang tidak diketahui penyebabnya". Ini adalah kondisi di mana otot-otot di satu sisi wajah menjadi lemah atau lumpuh. Ini hanya mempengaruhi satu sisi wajah pada satu waktu, menyebabkannya terkulai atau menjadi kaku di sisi itu.

Selain otot wajah yang lemas dan terkulai, Anda mungkin juga mengalami kondisi berikut:

  • Merasakan nyeri di rahang atau di belakang telinga di sisi yang terpengaruh
  • Sakit kepala akut yang akan membuat Anda ingin membenturkan kepala
  • Menjadi lebih sensitif terhadap suara di sisi yang terpengaruh
  • Mengalami kesulitan makan dan minum

Mengutip dari The Health, sejauh ini kekhawatiran akan vaksin Covid-19 dengan Bell's palsy tidak perlu terlalu ditakutkan.

Baca Juga: Tambah 1.232 Orang, Kasus Corona DKI Jakarta Tembus 150.250 Pasien

Jason D. Hinman, MD, PhD, asisten profesor neurologi di David Geffen School of Medicine di UCLA mengatakan ia tidak dapat menemukan hubungan langsung dengan vaksin. Dugaannya, kondisi ini bisa jadi kebuetulan.

"Insiden normal Bell's palsy kira-kira 20 orang dari 100.000. Studi Pfizer memeriksa 38.000 pasien, jadi empat kasus akan berada dalam insiden normal Bell's palsy yang diamati," jelasnya.

Masalah serupa muncul beberapa dekade yang lalu, ketika beberapa kasus terisolasi orang yang mengembangkan Bell's palsy setelah mendapatkan vaksin flu dilaporkan. Namun, tidak ada penelitian yang berhasil menemukan hubungan antara vaksin flu dan Bell's palsy.

Load More