Jika Anda mengalami gejala yang berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk dan rutin minum teh berkafein, Anda mungkin ingin mempertimbangkan untuk mengurangi asupanmya - terutama jika Anda juga mengonsumsi minuman atau suplemen lain yang mengandung kafein.
4. Mual
Senyawa tertentu dalam teh dapat menyebabkan mual, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah banyak atau dengan perut kosong. Tanin dalam daun teh bertanggung jawab atas rasa teh yang pahit dan kering. Sifat astringen dari tanin juga dapat mengiritasi jaringan pencernaan, berpotensi menyebabkan gejala tidak nyaman, seperti mual atau sakit perut.
Jumlah teh yang dibutuhkan untuk mendapatkan efek ini dapat sangat bervariasi tergantung orangnya. Orang yang lebih sensitif mungkin mengalami gejala ini setelah minum sedikitnya 1-2 cangkir (240-480 ml) teh, sedangkan yang lain mungkin dapat minum lebih dari 5 cangkir (1,2 liter) tanpa menyadari efek buruknya.
Jika Anda melihat gejala-gejala ini setelah minum teh, Anda mungkin harus mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah total yang Anda minum pada satu waktu.
Anda juga dapat mencoba menambahkan sedikit susu atau menikmati makanan dengan teh Anda. Tanin dapat mengikat protein dan karbohidrat dalam makanan, yang dapat meminimalkan iritasi pencernaan.
5. Sakit maag
Kafein dalam teh dapat menyebabkan mulas atau memperburuk gejala refluks asam yang sudah ada sebelumnya. Penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat mengendurkan sfingter yang memisahkan kerongkongan Anda dari perut, memungkinkan isi lambung yang asam lebih mudah mengalir ke kerongkongan. Kafein juga dapat berkontribusi pada peningkatan produksi asam lambung total.
Tentu saja, minum teh belum tentu menyebabkan mulas. Orang-orang merespons paparan makanan yang sama dengan sangat berbeda. Meskipun demikian, jika Anda rutin mengonsumsi teh dalam jumlah besar dan sering mengalami mulas, ada baiknya untuk mengurangi asupan dan melihat apakah gejala Anda membaik.
6. Komplikasi kehamilan
Paparan kafein tingkat tinggi dari minuman seperti teh selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti keguguran dan berat lahir bayi rendah.
Data tentang bahaya kafein selama kehamilan beragam, dan masih belum jelas seberapa aman kafein tersebut. Namun, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa risiko komplikasi tetap relatif rendah jika Anda menjaga asupan kafein harian di bawah 200-300 mg.
Baca Juga: 8 Manfaat Minum Teh Hijau Sebelum Tidur
Konon, American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan untuk tidak melebihi tanda 200 mg. Kandungan kafein total teh dapat bervariasi tetapi biasanya berkisar antara 20–60 mg per cangkir (240 ml). Oleh karena itu, berhati-hatilah, sebaiknya tidak minum lebih dari sekitar 3 cangkir (710 ml) per hari.
Beberapa orang lebih suka minum teh herbal bebas kafein sebagai pengganti teh biasa untuk menghindari paparan kafein selama kehamilan. Namun, tidak semua teh herbal aman digunakan selama kehamilan. Misalnya, teh herbal yang mengandung black cohosh atau licorice dapat menyebabkan persalinan prematur dan harus dihindari.
Jika Anda hamil dan khawatir tentang asupan kafein atau teh herbal Anda, pastikan untuk mencari panduan dari penyedia layanan kesehatan Anda.
7. Sakit kepala
Asupan kafein yang terputus-putus dapat membantu meredakan sakit kepala jenis tertentu. Namun, bila digunakan secara kronis, efek sebaliknya dapat terjadi. Konsumsi kafein dari teh secara rutin dapat menyebabkan sakit kepala berulang.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sedikitnya 100 mg kafein per hari dapat menyebabkan kambuhnya sakit kepala setiap hari, tetapi jumlah pasti yang dibutuhkan untuk memicu sakit kepala dapat bervariasi berdasarkan toleransi individu.
Teh cenderung lebih rendah kafeinnya daripada jenis minuman berkafein populer lainnya, seperti soda atau kopi, tetapi beberapa jenis masih dapat menyediakan kafein sebanyak 60 mg per cangkir (240 ml). Jika Anda mengalami sakit kepala berulang dan berpikir itu mungkin terkait dengan asupan teh Anda, coba kurangi atau hilangkan minuman ini dari makanan Anda untuk sementara waktu untuk melihat apakah gejala Anda membaik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status "Cucu Nabi" Demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi
-
Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan
-
Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!