Suara.com - Menjaga pola hidup sehat terasa lebih penting di tengah kondisi pandemi Covid-19. Tetapi yang sering kali kurang disadari banyak orang, hidup sehat bukan hanya untuk menjaga fisik tetapi juga mental.
Dokter spesialis kejiwaan dr. Natalia Widiasih Raharjanti. Sp. KJ., mengatakan fisik yang terjaga tetap sehat juga akan berdampak pada emosi tetapi stabil.
"Cara emosi tetap stabil harus menjaga fisik dulu. Waktu menjaga pola tidur, pola makan juga olahraga," kata Natalia dalam talkshow virtual di Graha BNPB Indonesia, Senin (11/1/2021).
Tak kalah penting juga harus menyadari tanda-tanda kelelahan pada diri. Lagi-lagi, bukan hanya lelah fisik tapi juga kelelahan secara mental. Natalia menyampaikan bahwa ada tiga gejala yang bisa terjadi.
"Kelelahan bisa macam-macam, tanda gejalanya ada tiga. Apakah jadi mudah sensitif atau jadi mudah marah, kognitif pola pikir jadi ngaco, atau dari perilaku kita jadi apatis, gak pedulian. Itu harus dikenali dulu," ucapnya.
Setelah menyadari adanya salah satu atau seluruh gejala tersebut, langkah selanjutnya seseorang harus beristirahat. Natalia menyarankan istirahat dengan tidak melakukan apa pun atau cukup dengan tidur.
Tetapi, ia juga menyampaikan bahwa manusia jika mengalami tekanan emosional, maka tubuhnya cenderung akan punya dua pilihan. Antara menghadapi kelelahan tersebut atau menghindarinya.
"Kalau lagi tertekan tubuh itu cenderung jadi fight or flight. Apakah kita mau lari dari masalah berat ini atau mau fight supaya bisa cepat teratasi. Nah, itu yang membuat kondisi tegang. Kalau udah fight or flight, itu kortisol naik, reformen naik, kita gak akan bisa tidur. Yang harus dilakukan belajar teknik relaksasi," tuturnya.
Menurut pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, relaksasi termasuk aktivitas yang mudah tetapi tidak semua orang bisa melakukannya. Terlebih, setiap orang tentunya memiliki cara relaksasi berbeda-beda.
Baca Juga: Ahli Ingatkan Kesehatan Mental Bisa Jadi Bom Waktu akibat Pandemi Covid-19
Ia menyarankan, terlebih dulu menyadari atau mencari relaksasi yang tepat dilakukan untuk bisa membuat diri tenang.
"Ada yang yoga, ada yang nonton film horor. Jadi kenali apa yang membuat rileks. Kalau sudah rileks baru mengenali sumber kecemasan. Kalau sudah tahu, berpikir apakah kecemasan sesuatu yang bisa dikontrol atau ketakutan cuma dari individu. Jangan pernah diam saja. Jadi salah satu cara berpikir positif adalah selalu aktif," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Orang Tua Waspada! Ini Tanda Gangguan Pertumbuhan pada Anak: Pengaruh Hingga Dewasa
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi