Suara.com - Para ilmuwan di Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa vaksinasi massal tidak akan membentuk kekebalan kawanan atau herd immunity terhadap virus corona Covid-19 tahun ini.
WHO menambahkan bahwa herd immunity juga tidak terbentuk meski salah satu produsen vaksin meningkatkan jumlah produksi mereka.
"Kita tidak akan mencapai tingkat kekebalan kawanan atau kekebalan populasi pada tahun 2021," tutur Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan WHO, Senin (11/1/2021).
Ia menambahkan, melansir The Journal Ireland, bahwa perlu waktu untuk memproduksi dan memberikan dosis vaksin yang cukup agar penyebaran virus corona dapat diberantas.
Oleh karenanya, Swaminathan menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan, yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker, untuk mengendalikan pandemi. Bahkan, setelah vaksinasi.
Perusahaan Jerman BioNTech, produsen vaksin Covid-19 bersama Pfizer, mengatakan dapat menghasilkan jutaan dosis lebih banyak, meningkatkan perkiraan produksi dari 1,3 menjadi dua miliar.
Tetapi, perusahaan juga memperingatkan bahwa Covid-19 kemungkinan akan menjadi penyakit endemik, dan respons kekebalan dari vaksin dapat berkurang secara alami.
Hingga kini SARS-CoV-2 telah menginfeksi lebih dari 91 juta orang dan menyebabkan lebih dari 1,95 juta meninggal sejak satu tahun yang lalu, saat China mengonfirmasikan kematian pertama di pusat kota Wuhan.
China sudah bisa mengendalikan sebagian besar kasus, namun saat ini masih menangani sejumlah infeksi lokal.
Baca Juga: Brasil Selesai Uji Klinis Tahap Akhir Vaksin Sinovac, Ini Hasilnya
Lebih dari setengah juta orang masih lockdown di Beijing karena pemerintah masih memberlakukan tindakan ketat agar kasus tidak bertambah.
Berbeda dengan di Eropa, yang kasusnya justru semakin melonjak akibat adanya varian baru virus corona, terutama di Inggris.
Sementara itu Rusia mengonfirmasi kasus pertama dari mutasi virus corona asal Inggris, yang dinilai para ilmuwan lebih menular dari jenis sebelumnya.
Varian baru dari Inggris ini juga telah menyebar di Amerika Serikat, negara dengan kasus terbanyak di dunia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi