Suara.com - Batuk persisten dan demam adalah gejala umum virus corona Covid-19. Tapi, aplikasi Covid-19 Symptom Study dari Inggris telah melacak pergerakan virus dan mengumpulkan data analisis serta gejala virus corona pada jutaan orang.
Sebuah penelitian yang sedang berlangsung pun berusaha memahami tingkat keparahan gejala virus corona Covid-19, dari yang paling ringan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Claire Steves dan Profesor Tim Spector di King College London melalui data dari aplikasi Covid-19 Symptom Study menyoroti dua gejala virus corona yang menjadi prediktor kuat membutuhkan perawatan rumah sakit dan berbahaya.
Studi ini fokus pada data dari 4.182 orang yang menggunakan aplikasi secara konsisten untuk mencatat kondisi kesehatan mereka hingga dinyatakan positif virus corona melalui pengujian swab PCR.
Pada seseorang dengan gejala terlama, demam terus-menerus dan melewatkan makan merupakan prediktor kuat seseorang membutuhkan perawatan rumah sakit.
Tim peneliti memberikan sejumlah wawasan tambahan tentang sifat dari gejala Covid-19 panjang atau Long Covid-19. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan gejala virus corona yang tetap ada selam berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah pasien Covid-19 sembuh.
Tapi dilansir dari Express, lamanya waktu yang dibutuhkan setiap orang untuk pulih dari virus corona Covid-19 berbeda-beda. Penelitian juga mengidentifikasi dua pengelompokan gejala utama yang terkait dengan Covid-19.
Gejala pertama didominasi dengan masalah pernapasan, seperti batuk, sesak napas, sakit kepala dan kelelahan. Gejala kedua terkait dengan multi sistem, yang memengaruhi banyak bagian tubuh, termasuk otak, usus dan jantung.
Pasien Covid-19 lebih sering melaporkan gejala jantung, seperti palpitasi atau detak jantung cepat, kesemutan atau mati rasa dan masalah konsentrasi atau kabut otak.
Baca Juga: Kasus Corona Makin Masif, Kenali Gejala Covid-19 dan Cara Mencegahnya
Orang dengan Covid-19 panjang juga dua kali lebih berisiko melaporkan bahwa gejala virus coronanya kembali lagi setelah pulih dibandingkan mereka yang memiliki Covid-19 pendek, yakni risikonya 16 persen banding 8,4 persen.
Secara keseluruhan, tim peneliti menemukan bahwa kebanyakan orang dengan Covid-19 dilaporkan kembali normal dalam 11 hari atau kurang, sekitar satu dari tujuh (13,3 persen, 558 pengguna).
Mereka mengalami gejala virus corona yang berlangsung setidaknya selama empat minggu. Kemudian, 4,5 persen dari 189 pengguna tetap sakit selama 8 minggu dan 2,3 persen dari 95 pengguna menderita lebih dari 12 minggu.
Temuan ini adalah perkiraan konservatif yang bisa digunakan untuk mencari tahu tingkat risiko Long Covid-19 pada pasien virus corona.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa