Suara.com - Negara Jepang sudah lebih dulu melakukan tes saliva sebagai cara diagnosis infeksi Covid-19. Hal tersebut ditunjukkan oleh Youtuber Indonesia yang sedang berkuliah di Jepang, Jerome Polin.
Tes saliva adalah metode tes Covid-19 menggunakan sampel air liur, untuk dideteksi adanya kandungan virus corona SARS CoV 2 dalam tubuh.
Dalam unggahan insta story-nya, Jerome mengatakan harus menjalani tes Covid-19 sebagai syarat mengikuti sebuah acara di Jepang. Ia pun mendapat kiriman paket berupa kit tes saliva untuk tes Covid-19.
Ya, metode tes saliva yang dijalani Jerome tidak mengharuskan ia mendatangi klinik untuk menjalani tes Covid-19. Setelah mendapat kiriman perlengkapan tes, Jerome cukup mengirimkan kembali sampel air liur ke klinik tempat pengujian sampel akan dilakukan.
Masih di insta story-nya, mahasiswa jurusan matematika dengan beasiswa full di Jepang itu bercerita, dalam paket alat tes berbentuk dus itu terdapat form data diri yang harus ia isi lebih dulu.
Selanjutnya di dalamnya berisi tisu alkohol untuk membersihkan tangan sebelum mengambil sampel air liurnya.
Jerome kemudian diharuskan mengumpulkan ludah di kantong kecil, setelah terkumpul ia harus memasukkan air liurnya dalam tabung kecil yang harus langsung ditutup.
Sampel dalam tabung itu harus Jerome kirim kembali ke klinik, setelahnya nanti ia dihubungi untuk hasil tesnya. Sayang, Jerome tidak menjelaskan lebih lanjut berapa lama ia harus menunggu hasil tesnya keluar.
Sama andalnya dengan tes usap hidung tenggorok atau swab test.
Baca Juga: Wali Kota Binjai Terpilih Positif Covid-19, Dirawat di Medan
Sebelumnya melansir CBS News, menurut peneliti Jepang dibandingkan tes menggunakan air liur, tes usap hidung lebih rumit dan membuat orang-orang tidak nyaman.
Untuk membuktikannya, peneliti menguji 1.924 orang yang tidak menunjukkan gejala virus corona menggunakan sampel air liur dan tes swab minggu ini di bandara Haneda Tokyo dan bandara Internasional Kansai di Osaka.
Peneliti menyimpulkan pengujian menggunakan air liur memiliki keakuratan sekitar 90 persen dalam mengidentifikasi kasus positif, dengan hampir tidak ada kasus palsu. Kedua tes tersebut juga dapat mengidentifikasi hasil negatif di hampir semua kasus.
Indonesia sedang mempertimbangkan tes saliva
Di Indonesia, Menteri Riset dan Teknologi atau Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/ Kepala BRIN) Profesor Bambang Brodjonegoro sedang mempertimbangan penggunaan metode tes saliva untuk menguji Covid-19.
Dengan begitu, diharapkan proses testing bisa lebih cepat dan pengambilan sampel bisa lebih mudah karena hanya menggunakan air liur
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo JSM Superindo Minggu Ini, Kue Lebaran dan Biskuit Kaleng Cuma Rp15 Ribuan
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 5 Body Lotion Terbaik untuk Memutihkan Kulit Sebelum Lebaran
- Di Balik Serangan ke Iran: Apa yang Ingin Dicapai AS dan Israel?
Pilihan
-
Persebaya Babak-belur di Kandang Borneo FC, Ini Dalih Bernardo Tavares
-
Here We Go! Elkan Baggott Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia
-
Sejumlah Artis Mendatangi Rumah Duka Vidi Aldiano, Wartawan Dilarang Masuk
-
Setelah Bertahun-tahun Berjuang, Inilah Riwayat Kanker Ginjal Vidi Aldiano
-
Vidi Aldiano Meninggal Dunia Sabtu 7 Maret Pukul 16.33 WIB
Terkini
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara