Suara.com - Rencana pemerintah untuk menggunakan alat Gadjah Mada Electric Nose Covid-19 atau GeNose C19 untuk skrining awal dikritik banyak pihak. Salah satunya datang dari Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman.
Dicky menilai bahwa penggunaan GeNose 19 untuk skrining awal sebagai syarat perjalanan tidak akan efektif. Bahkan, ia menyebut hal itu bisa mendatangkan bahaya yang berkepanjangan.
"ni berbahaya dalam situasi pandemi Indonesia yang belum terkendali, digunakan di fasilitas umum, itu bukan menyelesaikan masalah, malah menciptakan masalah," kata Dicky saat dihubungi Suara.com baru-baru ini.
Dicky menjelaskan bahwa dari sisi konsep ilmiah, peruntukan GeNose 19 sebagai syarat perjalanan dinilai tidak tepat. Menurutnya, GeNose 19 bisa saja digunakan di rumah sakit atau seting fasilitas kesehatan lainnya.
"Tapi kalau digunakan di stasiun itu salah kaprah, rangkaiannya itu tidak tepat , karena ini kan mesin pakai kecerdasan buatan, yang dibangun dengan data sesuai settingnya kalau settingya fasilitas kesehatan akan sangat mudah terlatih mendeteksi kasus di fasilitas itu," ujar Dicky menjelaskan.
Namun, jika alat ini digunakan di tempat umum dengan populasi yang relatif berbeda justru akan banyak menibulkan hasil yang keliru.
"itu di riset yang serupa di Jerman, di sana begitu berhati hati bahkan dihentikan karena false negatifnya banyak sekali," kata Dicky.
Dilansir dari DutchNews, Badan kesehatan regional Belanda berhenti menggunakan tes nafas virus corona karena sejumlah hasil yang salah yang dilaporkan oleh wilayah Amsterdam.
Tes SpiroNose seharusnya sudah diluncurkan di seluruh negeri dalam beberapa bulan mendatang. Tes yang menggantikan usap hidung dengan mengeluarkan napas ke dalam tabung itu telah diujicobakan di beberapa lokasi di Amsterdam sejak akhir Januari lalu.
Baca Juga: Daftar Harga Tes COVID-19 GeNose di 8 Stasiun Kereta Api
Terlepas dari klaim awal bahwa tes tersebut sangat dapat dipercaya, sejumlah orang dinyatakan negatif untuk virus corona tetapi kemudian dinyatakan positif menggunakan tes PCR tradisional.
"Tidak ada tes yang 100 persen dapat diandalkan tetapi karena kami ingin memastikan yang kami bisa, kami berhenti menggunakannya untuk sementara," kata juru bicara dewan kesehatan daerah.
Hasilnya bisa jadi karena penggunaan peralatan yang salah dan ini akan mendapat perhatian ekstra dalam beberapa hari mendatang
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak