Suara.com - Hemofilia merupakan penyakit langka yang kerap ditemukan pada masyarakat Indonesia. Meskipun langka, penyakit ini butuh perhatian lebih karena bisa membahayakan dan mengancam nyawa.
Hemofilia adalah kondisi di mana seseorang mengalami gangguan darah tidak bisa membeku dengan baik seperti kebanyakan orang normal.
Hasilnya saat mengalami pendarahan atau terluka, darah sulit dihentikan dan ini bisa mengancam nyawa.
Mirisnya menurut Survei Global Tahunan World Federation of Hemofilia yang dijabarkan President of World Federation of Hemophilia, Cesar Alejandro Garrido di Indonesia hanya 8,3 persen pasien hemofilia yang baru terdata.
Ini artinya data yang dijabarkan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin yang mengatakan jika kasus hemofilia Indonesia yang berjumlah 2.708 kasus masih bak gunung es. Sisanya belum terdeteksi atau belum terdata.
"Kita perlu memiliki informasi yang lebih akurat untuk dapat merancang strategi penanganan yang lebih efektif dan meyakinkan para pengambil keputusan di otoritas kesehatan dan pemerintah pusat untuk perbaikan penanganan hemofilia," ujar Cesar dalam acara Kongres Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) beberapa waktu lalu.
Fakta ini menurut Cesar tidak jauh beda dengan data hemofilia dari seluruh dunia, yang menurut dia masih ada 75 persen orang dengan gangguan hemofilia belum terdata. Ditambah jika pun sudah terdata, masih sangat sedikit yang mendapatkan perawatan.
"Hanya sekitar 20 persen dari pasien yang telah didiagnosis mendapatkan perawatan yang adekuat. Di wilayah Barat Pasifik, kami telah mendiagnosis 39 persen pasien dari total populasi pasien hemofilia," jelas Cesar.
"Sementara di Asia Tenggara dengan situasi yang lebih menantang, kami hanya mendata sekitar 16 persen dari populasi pasien," sambungnya.
Baca Juga: Hari Hemofilia Sedunia, Ketahui Penyebab dan Jenis Kelainan Langka ini!
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Gaya Hidup Sedentari Tingkatkan Risiko Gangguan Muskuloskeletal, Fisioterapi Jadi Kunci Pencegahan
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin