Suara.com - Pasien Covid-19 yang mengalami obesitas lebih berisiko alami kematian. Sebab, tubuh yang kelebihan berat badan bisa menurunkan sistem imun dan juga menyebabkan pengentalan darah. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. dr. Zubairi Djurban, Sp.PD., menyampaikan bahwa penurunan imunitas yang disebabkan obesitas telah terbukti dalam penelitian.
"Penelitian pada tikus membuktikan bahwa tikus yang obes didapati kehilangan fungsi limfosit T dan kemampuannya melawan penyakit. Sehingga kondisinya jauh lebih buruk ketimbang tikus yang tidak obes," kata Zubairi dikutip dari tulisannya di Twitter, Minggu (7/3/2021).
Menurutnya, seseorang dikatakan obesitas jika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) sama dengan atau di atas 30. IMT merupakan salah satu cara untuk mengetahui rentang berat badan ideal.
Tidak sedikit orang memiliki IMT mencapai 40. Prof Zubairi mengingatkan bahwa kondisi itu menjadi lebih serius karena bisa mempengaruhi kesehatan.
"Kondisi berat badan berlebih atau obesitas ini menyebabkan banyak hal. Seperti kekebalan tubuh terganggu, sistem imun tidak ideal, hiperkoagulasi (sindrom kekentalan darah), dan peradangan kronik. Itu semua yang menyebabkan kondisi orang dengan obesitas lebih berat dan lebih mudah meninggal jika terinfeksi Covid-19," paparnya.
Selain itu, tubuh obesitas juga akan lebih mudah terkena macam-macam penyakit. Seperti jantung, paru, diabetes, sindrom metabolik, hingga darah tinggi. Sehingga, lanjut prof. Zubairi, orang-orang obesitas akan semakin gawat jika terinfeksi virus corona.
"Ada korelasi langsung antara obesitas dan risiko kematian Covid-19. Dari data, orang dengan obesitas itu 74 persen lebih berisiko memerlukan penanganan ICU. Angka kematiannya juga lebih tinggi 48 persen ketimbang pasien Covid-19 non obesitas," paparnya.
Sayangnya, stigma masyarakat terhadap orang obesitas juga menghambat mereka untuk kontrol ke doktet, kata Prof. Zubairi. Terlebih, upaya menurunkan berat badan yang tidak mudah.
"Jika memang sungkan ke dokter, ada baiknya orang dengan obesitas ditemani sahabat atau anggota keluarga. Sehingga, komunikasinya nyaman dengan dokter. Kalau sudah nyaman, program penurunan berat badan yang diberikan juga bisa terlaksana dengan baik. Pasti bisa," ucapnya.
Baca Juga: Orang Bisa Terinfeksi 2 Varian Baru Virus Corona Sekaligus, Apa Efeknya?
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan
-
Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan
-
96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan
-
Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak
-
Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan
-
Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya
-
Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan