Suara.com - Memasuki masa remaja, manusia akan mengalami perubahan fisik yang signifikan, dari fase anak-anak menjadi orang dewasa.
Dibanding laki-laki, perempuan dianggap memiliki perubahan fisik yang lebih signifikan di mana bagian dada dan pinggul biasanya akan lebih membesar.
Ini, dalam beberapa kasusu, kerap menjadi masalah terkait citra diri karena anak remaja mulai gemar membandingkan dengan orang lain dan kadang terobsesi memiliki body goals atau badan idaman.
Padahal perasaan harga diri yang rendah dan citra tubuh dapat menjadi pemicu langsung masalah kesehatan mental, dan karenanya perlu perhatian segera.
Untuk membantu para remaja menjadi lebih positif terhadap tubuhnya sendiri, perlu dilakukan dari rumah. Dikutip dari Times of India, begini cara mengajarkan remaja perempuan agar tidak insecure atau minder dengan penampilan dan mulai belajar mencintai diri sendiri!
1. Mulai dengan berbicara pada waktu yang tepat
Masa pubertas berpengaruh besar pada pertumbuhan tubuh pra-remaja. Masa ini juga anak mengalami sebagian besar perubahan, dari segi penampilan dan menjadi lebih sadar tentang diri mereka sendiri. Meski normal, orangutua harus menjelaskan, terutama membantu mereka menerima semua perubahan yang terjadi.
Misalnya penambahan berat badan, rambut wajah pada laki-laki, pertumbuhan rambut secara keseluruhan, menjadi perubahan umum yang tidak bisa dihindari. Jelaskan pentingnya percaya diri, memiliki kepribadian yang positif, dan melihat lebih dari sekadar penampilan. Semakin mereka merasa percaya diri, semakin kecil untuk jatuh ke dalam perangkap negativitas tubuh.
2. Kontrol apa yang mereka lihat di internet
Internet, iklan, gambar selebritis bisa menjadi jebakan bagi remaja untuk mulai merasa tidak aman. Foto yang diposting sering kali hanya sekadar ilusi dan dapat membuat anak-anak yang sedang tumbuh merusak diri mereka sendiri.
Platform media sosial juga dapat memberikan ruang untuk perbandingan, mempermalukan, bahkan validasi. Oleh karena itu, mengontrol atau menetapkan batasan pada apa yang dilihat atau dilakukan remaja secara online dapat membantu membimbing mereka tidak terpengaruh dengan body goals ilusi. Komunikasikan dengan anak tentang bahaya media sosial, ajarkan mereka tentang situs dan konten apa yang sesuai dan apa yang tidak.
Baca Juga: Rudapaksa Remaja 16 Tahun, Duda di Aceh Ditangkap Polisi
3. Dorong untuk mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat
Gaya hidup yang lebih sehat membuka pikiran dan tubuh yang lebih bugar. Jika dipraktikkan dengan benar, mereka juga dapat menyadari bahwa betapa perlunya memberi makan tubuh dengan benar, mengonsumsi berbagai makanan bernutrisi, berolahraga, dan tidak hanya sekadar memoles penampilan.
4. Besarkan mereka untuk menjadi baik dan menerima orang-orang di sekitarnya
Sama pentingnya untuk mencintai diri sendiri, remaja juga harus diarahkan untuk mencintai dan menghormati orang lain. Hubungan suportif dan teman-teman yang menyebarkan aura positif dan bukan hanya atribut fisik, bantu memperkuat gagasan penerimaan diri.
Ketika Anda berbicara dengan anak remaja, jelaskan kepada mereka bahwa tubuh yang sehat datang dalam berbagai bentuk dan ukuran, tidak persis seperti yang ditampilkan di televisi atau media sosial.
5. Jadi panutan
Remaja seringkali membutuhkan figur yang bisa ia contoh untuk melakukan sesuatu. Sebagai orang terdekat dari lingkungan keluarga, Anda bisa menjadi panutan bagi mereka.
Jika anak-anak mengamati Anda mempraktikkan nilai-nilai positif, kurang kritis tentang penampilan dan sebaliknya, menghargai pujian non-fisik, dia akan memilih sifat yang benar dan menjadi tubuh yang positif sendiri.
Jika Anda tampil sebagai seseorang yang makan makanan sehat dan lebih positif tentang penampilan, akan lebih mudah bagi remaja untuk melakukan hal yang sama.
Cara lain untuk melakukannya adalah dengan menghargai atau memuji anak apa adanya, apa yang mereka lakukan, alih-alih mengamati bentuk atau ukuran mereka. Lelucon tentang penampilan juga harus disingkirkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi