Suara.com - Pandemi Covid-19 sudah berlangsung lebih dari satu tahu. Penyakit yang pertama kali ditemukan di Wuhan China ini juga telah memakan lebih dari 40.000 nyawa masyarakat Indonesia.
Meski demikian, menurut Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen (YLK) ada pandemi yang lebih memprihatiknkan dibanding pandemi Covid-19. Bahkan pandemi itu sudah berlangsung lebih dari 15 tahun terakhir, yaitu konsumsi rokok.
"Sudah lama WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyatakan bahwa konsumsi tembakau atau bahaya tembakau adalah pandemi global," ujar Tulus dalam acara Setahun Pandemi, Rabu (31/3/2021).
Namun sayangnya, yang merespon pandemi ini hanya segelintir orang saja, alias hanya elemen-elemen tertentu semata, dan masih dianggap ecek-ecek, sehingga pemerintah Indonesia juga tidak membuat regulasi yang tegas terkait ini.
Padahal kata Tulus, 'the real pandemi' konsumsi rokok ini menimbulkan korban jiwa yang jauh lebih banyak, termasuk kerugian negara karena membiayai orang sakit akibat kebiasaan merokok.
"Setiap tahun mencabut nyawa konsumen indonesia lebih dari 200 ribu orang, dengan kerugian sosial ekonomi lebih dari 400 triliun per tahunnya. Jadi kurang apalagi?," ungkap Tulus bertanya-tanya.
Sehingga menurut Tulus, dibanding berbagai refleksi satu tahun pandemi Covid-19, maka merefleksi kembali pandemi konsumsi rokok adalah bahasan yang paling tepat.
"Perhatian kita luput dari fokus kita, yaitu pandemi konsumsi rokok di Indonesia. Selain itu pandemi ini sudah dinyatakan secara global oleh WHO," pungkas Tulus.
Sementara itu, merokok jadi faktor risiko utama penyakit-penyakit tidak menular mematikan, yang di antaranya ternyata merupakan penyakit-penyakit penyerta pasien Covid -19 tertinggi, yaitu hipertensi, kardiovaskular, paru kronis, dan kanker, yakni hipertensi sebesar 50,4 Persen, diabetes melitus 35,3 Persen, penyakit jantung sebanyak 17,6 Persen, penyakit paru kronis 6,2 Persen, beserta kanker sebesar 1,2 Persen.
Baca Juga: Turun Drastis, Zona Merah Hanya di Lima Daerah
Pada diabetes melitus pun, rokok meningkatkan faktor risiko seseorang terkena penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2.
Zat adiktif nikotin dalam rokok dapat menyebabkan resistensi hormon insulin dan mengurangi respon pankreas untuk menghasilkan insulin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak