Suara.com - Pasien COVID-19 yang sudah sembuh berisiko dirawat di rumah sakit kembali karena mengalami kerusakan organ (disfungsi multiorgan), ungkap studi terbaru dari Inggris.
Risiko kerusakan organ tidak hanya terjadi pada kelompok lansia dan etnis tertentu. Menurut penelitian, hal ini bisa jadi alasan mengapa Covid-19 bisa menimbulkan dampak jangka panjang bagi sistem kesehatan di rumah sakit.
Walaupun COVID-19 diketahui menyebabkan masalah pada saluran pernapasan, kerusakan organ jangka panjang yang ditimbulkan juga memengaruhi sistem tubuh yang lain, termasuk jantung, ginjal, dan hati.
Mengutip dari Healthshots, para peneliti Inggris dari Office for National Statistics membandingkan tingkat kerusakan organ pada pasien COVID-19, setelah keluar beberapa bulan dari rumah sakit.
Penelitian yang bekerja sama dengan University College London dan University of Leicester ini dilakukan kepada dari 47.780 orang. 55 Persen partisipan merupakan laki-laki dengan rata-rata usia 65 tahun.
Riwayat kesehatan partisipan digunakan untuk melacak tingkat kunjungan ke rumah sakit, baik untuk dirawat atau sekadar kontrol. Data yang diambil adalah masalah pernapasan, kardiovaskular, metabolik, ginjal, dan hati, hingga 30 September 2020.
Usai pemantauan lanjutan yang dilakukan selama 140 hari, data menyebut hampir sepertiga pasien COVID-19 yang keluar dari rumah sakit dirawat kembali, yakni 14.060 orang dari 47.780. Sementara itu, satu dari sepuluh (5.875 orang) meninggal dunia seusai dari rumah sakit.
Kasus ini terjadi pada 766 orang yang dirawat kembali, dan diikuti 320 kematian orang dari 1.000 populasi per tahun.
Selain itu, pasien COVID-19 yang dirawat kembali mengalami kenaikan risiko mengidap penyakit pernapasan, kardiovaskular, dan diabetes, dengan diagnosis baru pada 1.000 orang per tahunnya.
Baca Juga: Dokter Sebut Efektivitas Vaksin Covid-19 Berkurang pada Pasien Autoimun
Studi yang diterbitkan di jurnal BMJ ini menggunakan data 10 tahun catatan klinis yang sama sebagai kelompok kontrol.
Penemuan juga menunjukkan, bahwa diagnosis, pengobatan, dan pencegahan sindrom pasca-Covid membutuhkan pendekatan secara menyeluruh, dibanding pendekatan lewat penyakit khusus.
Selain itu, perlu untuk memahami faktor risiko sindrom pasca-Covid, sehingga pengobatan dapat dilakukan secara klinis.
Berita Terkait
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Fatal Akibat Kurang Tidur: Belajar dari Kisah Influencer yang Meninggal Saat Live Streaming
-
Mendiktisaintek Klarifikasi Isu Penutupan Jurusan Kuliah yang Tak Sesuai Kebutuhan Industri
-
122 Prodi di Kampus Negeri dan Swasta Ditutup Sepanjang 2026, Menteri Brian Ungkap Alasannya
-
Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi