Suara.com - Setelah satu tahun menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ), sekolah tatap muka tampaknya akan segera direalisasikan di tahun ajaran baru 2021 mendatang. Uji coba telah dilakukan Rabu (7/4/2021) lalu terhadap 85 sekolah yang sudah lolos penilaian Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Tentu banyak pertimbangan di balik keputusan dibukanya sekolah di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai ini. Dan vaksinasi guru adalah salah satunya.
Namun, hal ini disanggah oleh dr. Pandu Riono, Mph, PhD, pakar epidemiologi Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa vaksinasi guru tidak menjadi alasan untuk dibukanya kembali sekolah.
“Itu bukan jadi alasan dibukanya kembali sekolah, karena kan masyarakat di sekolah bukan cuma guru. Anak sekolah belum divaksinasi, kan?” ungkap dr. Pandu saat dihubungi Suara.com, Jumat (9/4/2021).
Untuk sekolah tatap muka, ia berpendapat bahwa sebaiknya jangan tergantung pada vaksinasi. Yang terbaik menurutnya adalah melakukan pencegahan di luar vaksinasi, yaitu mencuci tangan, memakai masker selama pelajaran, dan ruangan kelas harus diatur untuk bisa menjaga jarak.
“Disiplin ini yang mesti ditetapkan, jangan gara-gara gurunya sudah divaksin, terus nggak mau pakai masker,” ungkapnya.
Di sekolah, anak-anak tentu tak hanya berinteraksi dengan gurunya di kelas. Mereka berinteraksi juga misalnya dengan satpam sekolah, penjaga kantin, dan terutama dengan teman-temannya yang lain. Satu saja di antara mereka ada yang membawa virus, menurut dr. Pandu, rentan terjadi penularan.
“Kita tidak tahu di antara orang-orang yang berinteraksi itu, mana yang membawa virus. Kalau di lingkungan sekolah, cukup satu orang yang bawa virus, itu sudah menularkan tiga jam di kelas dan menginfeksi,” jelasnya.
Itu sebabnya, dr. Pandu menegaskan, vaksinasi guru dan dibukanya sekolah kembali tidak ada hubungannya. Jangan jadikan vaksinasi guru ini sebagai alasan. Ia juga khawatir jika vaksinasi menjadi alasan dibukanya kembali sekolah, maka prinsip-prinsip pencegahan penularan Covid-19 yang lain akan diabaikan.
Baca Juga: Sekolah Tatap Muka Berisiko Munculkan Klaster Baru, Apa Kata IDAI?
“Pencegahan itu yang paling utama, karena vaksinasi tidak mungkin mencegah penularan,” tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Drama Keluarga Halilintar Memanas! Atta Akhirnya Bicara soal Isu Aurel Diabaikan di Foto Keluarga
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi
-
Bukan Cuma Blokir, Ini Kunci Orang Tua Lindungi Anak di Ruang Digital
-
Sedih! Indonesia Krisis Perawat Onkologi, Cuma Ada Sekitar 60 Orang dari Ribuan Pasien Kanker
-
Lebih dari Sekadar Sembuh: Ini Rahasia Pemulihan Total Pasien Kanker Anak Setelah Terapi