Suara.com - Brasil sedang mengalami puncak kasus kematian terbanyak sejak pandemi virus corona lebih dari setahun yang lalu. Terlepas dari bukti bahwa Covid-19 jarang membunuh anak kecil, sebanyak 1.300 bayi di negara ini telah meninggal akibat infeksi virus corona tersebut.
Para ahli mengatakan banyaknya kasus Covid di Brasil, yang mana tertinggi kedua di dunia, telah meningkatkan kemungkinan bayi dan anak kecil terinfeksi.
"Tentu saja, semakin banyak kasus yang dimiliki, akibatnya semakin banyak yang dirawat di rumah sakit, semakin besar jumlah kematian di semua kelompok usia, termasuk anak-anak," kata Renato Kfouri, presiden dari Departemen Ilmiah Imunisasi dari Perkumpulan Pediatri Brasil.
Tingkat infeksi yang begitu tinggi telah memenuhi seluruh sistem perawatan kesehatan. Di seluruh wilayah, persediaan oksigen menipis, ada kekurangan obat-obatan dan tidak ada lagi tempat tidur di ruang ICU seluruh negeri, lapor BBC.
Sementara itu, presiden Brasil Jair Bolsonaro terus menentang aturan lockdown dan tingkat infeksi didorong oleh varian baru P.1 yang muncul di Manaus pada tahun lalu. Varian ini juga dinilai lebih menular dari virus corona awal, SARS-CoV-2.
Masalah lain yang mendorong angka kematian tinggi pada anak-anak adalah kurangnya pengujian.
Penasihat senior di NGO kesehatan internasional Vital Strategies, Fatima Marinho, mengatakan anak-anak seringkali terlambat didiagnosis sebagai Covid-19, padahal mereka sudah sakit parah.
"Kami memiliki masalah serius dalam mendeteksi kasus. Kami tidak memiliki cukup alat tes untuk masyarakat umum, bahkan lebih sedikit untuk anak-anak. Karena ada keterlambatan dalam diagnosis, ada penundaan dalam perawatan anak," jelas Marinho.
Bukan hanya karena kapasitas tes yang kecil, tetapi juga karena mudah untuk salah diagnosis akibat gejala Covid-19 pada anak-anak cenderung muncul dalam bentuk yang berbeda.
Baca Juga: Arkeolog Temukan Jejak Kaki Bayi Dinosaurus, Terkecil di Dunia
"Anak lebih banyak mengalami diare, sakit perut, dan nyeri dada, daripada gambaran klasik Covid-19. Karena keterlambatan diagnosis, saat anak tiba di rumah sakit mereka dalam kondisi serius," sambungnya.
Tapi ini juga tentang kemiskinan dan akses ke perawatan kesehatan.
"Yang paling rentan adalah anak-anak kulit hitam, dan anak dari keluarga yang sangat miskin, karena mereka paling sulit mendapatkan bantuan. Mereka adalah anak-anak yang paling berisiko meninggal." Ianjutnya.
Anak-anak ini juga berisiko mengalami malnutrisi, yang buruk bagi respons kekebalan tubuh.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga