Suara.com - American Academy of Pediatrcis merekomendasikan bagi remaja sebaiknya tidak mengonsumsi lebih dari 100 miligram kafein dalam sehari.
Sebab, mengonsumsi kafein dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan efek samping seperti gugup, lekas marah, detak jantung cepat, dan kecemasan.
Berikut lima alasan lagi agar remaja membatasi asupan kafein harian mereka, dilansir dari UNC Health:
1. Minuman berkafein seringkali mengandung kalori kosong.
Banyak minuman berkafein juga mengandung banyak gula dan lemak, misalnya minuman bersoda yang dapat mengambil nutrisi berharga seperti kalsium.
"Jika Anda minum kopi atau teh, kemudian menambahkan susu, gula, atau madu, itu bisa menambah kalori dan gula," kata Ty G. Bristol, MD, MPH, dokter anak di UNC Pediatrics di Panther Creek.
2. Kafein dapat menyebabkan insomnia
Kafein dapat menyebabkan sulit tidur di malam hari, yang pada akhirnya mengakibatkan insomnia dan kantuk di siang hari.
"Beberapa remaja bisa menjadi gugup, dan kafein dapat menyebabkan insomnia jika Anda mengonsumsinya terlalu banyak atau larut malam," sambung Bristol.
Baca Juga: Seiring Waktu, Terlalu Banyak Asupan Kopi Bikin Tubuh Toleran Kafein
3. Kafein memengaruhi jantung dan kepala
Asupan kafein dalam jumlah besar dapat meningkatkan tekanan darah pada beberapa orang.
"Jika Anda minum terlalu banyak, terutama dari minuman berenergi, maka dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah naik," lanjutnya.
Kondisi ini dapat menyebabkan sakit kepala saat berhenti.
"Seorang anak yang minum terlalu banyak kafein secara terus-menerus dalam dosis tinggi dapat mengembangkan toleransi terhadap kandungan ini," jelas Bristol lagi.
"Dan kemudian, jika mereka mencoba berhenti akan mengalami gejala penarikan, termasuk sakit kepala berulang," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
Terkini
-
Perubahan Iklim Bikin Nyamuk DBD Makin Ganas, Dokter: Kini Bisa Berulang 2 Tahunan
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru