Suara.com - Terapi plasma konvalesen adalah pengobatan eksperimental yang telah membantu banyak pasien Covid-19 sembuh lebih cepat. Lalu seperti apa metode donor plasma tersebut?
Melansir dari Healthshots, terapi plasma yang juga disebut terapi plasma penyembuhan adalah prosedur untuk menyembuhkan virus corona. Dalam perawatan ini, bagian cairan kekuningan dari darah yang diambil dari seseorang yang telah sembuh dari Covid-19.
Cairan ini kemudian disuntikkan ke pasien yang menderita infeksi. Laboratorium dapat memisahkan plasma dari darah melalui proses yang disebut sentrifugasi.
Plasma membantu menyembuhkan Covid-19 karena mengandung antibodi. Ketika tubuh Anda berhasil melawan infeksi, antibodi yang dihasilkannya disimpan dalam plasma. Dengan menyuntikkan plasma dari seseorang yang telah pulih ke seseorang yang mengidap Covid-19, orang tersebut kemungkinan besar sembuh lebih cepat.
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), waktu terbaik untuk menyumbang plasma darah adalah sekitar dua minggu setelah Anda sembuh total dari infeksi. Tapi jika Anda ingin mendonor plasma, Anda perlu menunjukkan bukti bahwa Anda pernah tertular Covid-19.
Berikut beberapa kriteria ideal untuk mendonorkan plasma konvalesen, antara lain:
1. Pendonor harus berbobot 55 kilogram ke atas
2. Berusia antara 18 hingga 60 tahun
3. Diutamakan laki-laki, jika perepuan belum pernah hamil
Baca Juga: Brasil Tolak Vaksin Covid-19 Sputnik V Buatan Rusia, Apa Alasannya?
4. Tidak menerima transfusi darah selama 6 bulan terakhir
5. Pendonor sebaiknya memiliki gejala saat terinfeksi Covd-19 (demam, pilek, batuk, dll), karena pasien tersebut memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki antibodi anti-SARS-Cov-2 IgG dibandingkan dengan pasien tanpa gejala.
6. Dilakukan 28 hari setelah gejala sembuh total
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
Terkini
-
DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya
-
AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi
-
Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi
-
Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?
-
Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar
-
Neuropati Perifer pada Diabetes Banyak Tak Terdeteksi, Pedoman Baru Dorong Peran Aktif Apoteker
-
Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat
-
Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat
-
Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama
-
Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta