Suara.com - Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Budi Haryanto mengungkapkan, pandemi Covid-19 yang melanda dunia satu tahun terakhir memperlihatkan betapa rentannya manusia yang hidup di wilayah dengan polusi udara.
Ia menyampaikan, masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat polusi udara tinggi akan lebih rawan jika terinfeksi virus penyebab Covid-19.
"Jadi Covid-19 itu menjadikan orang-orang yang terbiasa terkena pencemaran udara, dan yang punya penyakit-penyakit kronis akibat pencemaran udara menjadi lebih parah," ujar Budi Haryanto kepada Komunitas Bicara Udara di laman Instagram @Bicaraudara, Senin (26/4/2021) berdasarkan siaran pers yamg Suara.com terima.
Menurutnya, berdasarkan hasil riset dari Harvard pada tahun 2020 mendapati wilayah dengan polusi udara tinggi yang hampir 80 persen berada di perkotaan mencatatkan angka meninggal dunia akibat Covid-19 lebih tinggi 4,5 kali dibandingkan daerah dengan tingkat polusi udara rendah.
Jika melihat data di negara Eropa seperti Italia juga menunjukan hasil di mana kota yang tinggi polusi udaranya ternyata yang meninggal karena Covid-19 sekitar 12 persen dibandingkan dengan Italia bagian selatan yang tingkat pencemaran udaranya rendah.
"Kematian akibat Covid-19 hanya 4 persen. Artinya yang tinggi polusi, tiga kali lipat jumlah kematiannya dibandingkan dengan yang rendah polusi. Ternyata di negara lain di eropa juga menyebutkan kematian yang di wilayah tinggi polusi selalu lebih tinggi dibandingkan dengan kematian karena covid di wilayah rendah polusi," terangnya.
Untuk itu, Budi mengharapkan agar anak-anak muda khususnya di Indonesia mulai tertarik kepada masalah dalam mencegah polusi udara yang tinggi ke depannya. Hal itu bertujuan agar udara yang dihirup memiliki kualitas yang baik.
Pasalnya, lanjut Budi, untuk pemilihan makanan, manusia bisa memilih makanan atau minuman yang bisa dikonsumsi dengan kualitas terbaik. Di sisi lain saat ini yang lebih banyak problemnya adalah apakah manusia bisa memastikan udara yang dihirup adalah yang terbaik.
"Untuk itu kan harus mulai concern dulu bahwa problem terbesar dari manusia 50-60 persen penyakit itu terkait dengan pencemaran udara. Mulailah tahu itu dulu, baru kemudian silahkan mempelajari bagaimana penyakit sebanyak itu bisa hilang," paparnya.
Baca Juga: Usai 2 Kali Disuntik Vaksin Covid, Warga AS Bebas Keluar Rumah Tanpa Masker
Sebagai informasi Komunitas Bicara Udara sendiri adalah saluran untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya udara bersih dan usaha untuk membantu mengurangi polusi udara. Kanal tersebut merupakan lanjutan dari upaya yang dilakukan komunitas Langit Biru Jakarta yang memulai gerakan di laman Change.org pada 2020.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh