Suara.com - Vaksin AstraZeneca untuk virus corona Covid-19 telah dikaitkan dengan efek samping berupa pembekuan darah, terutama pada wanita.
Tapi, Profesor Sir Munir Pirmohamed, ketua Komisi Obat-obatan Manusia mengatakan tidak ada bukti kalau wanita berisiko lebih besar dari pembekuan darah setelah suntik vaksin AstraZeneca.
Tapi, kasus pembekuan darah yang langka ini meningkat sejalan dengan peluncuran vaksin Covid-19 yang cepat. Bukti ini menguatkan bahwa vaksin AstraZeneca adalah penyebab utama dari pembekuan darah langka, yang biasanya terjadi otak dan perut.
Sayangnya, belum ada bukti jelas mengenai hubungan antara vaksin Covid-19 dengan masalah pembekuan darah langka ini. Regulator di Inggris, MHRA, telah melaporkan lebih banyak kasus dan kematian pada wanita dibandingkan dengan pria.
Namun, para ahli mengatakan pembekuan darah ini nampaknya disebabkan oleh peluncuran vaksin Covid-19, bukan karena wanita memiliki risiko yang lebih tinggi.
Profesor Sir Munir Pirmohamed, ketua Komisi Obat-obatan Manusia, menyampaikan ada dua hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama adalah cara penggunaan vaksin, terutama pada petugas kesehatan dan pekerja perawatan sosial.
"Mayoritas tenaga kerja di sana adalah perempuan sehingga mereka memiliki tingkat keterpaparan yang lebih tinggi," kata Profesor Sir Munir dikutip dari The Sun.
Saat Anda mulai menghubungan dengan tingkat keterpaparan di populasi yang berbeda, mereka menemukan bahwa tingkat kejadian kasus pembekuan darah antara pria dan wanita sangat mirip.
"Tapi, data kami di Inggris menunjukkan perempuan tidak memiliki risiko pembekuan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki," jelasnya.
Baca Juga: Peneliti Temukan Efek Samping Vaksin AstraZeneca Lebih Banyak dari Pfizer
Profesor John Aston, Profesor Statistik dalam Kehidupan Publik, Universitas Cambridge, mengaku sangat setuju mengenai hal tersebut. Regulator UE juga mengatakan bahwa sebagian besar kasus pembekuan darah terjadi pada wanita, tidak ada faktor risiko spesifik yang dikonfirmasi.
"Satu-satunya faktor yang meningkatkan risiko pembekuan darah adalah usia. Kelompok usia lebih muda memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lebih tua," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat
-
Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak