Suara.com - Banyak orang mungkin mengira makanan kemasan bayi mungkin sudah dibuat aman untuk dikonsumsi, seperti bubur bayi kemasan. Tapi, Anda tetap perlu memperhatikan setiap nutrisi yang tertera dalam kemasan makanan kemasan bayi.
Sayangnya, banyaknya informasi dari internet mengenai nutrisi dalam makanan kemasan bayi mungkin menyesatkan atau membingungkan. Anda mungkin juga bingung menentukan sumber informasi terpercaya.
Berikut ini dilansir dari Health Shots, pannduan cepat untuk memahami makanan kemasan bayi aman dikonsumsi atau tidak.
1. Makanan alami atau organik
Ada perbedaan signifikan antara bahan alami dan bahan organik. Produk makanan organik biasanya diproduksi secara ketat tanpa menggunakan pestisida atau bahan kimia apapun. Setiap produk yang diberi label organik harus disertifikasi melalui proses sertifikasi dan regulator industri.
Di sisi lain, produk alami tidak mengandung pewarna, perasa, pemanis buatan dan lainnya. Jadi, saat Anda membeli produk organik, pastikan produk tersebut bersertifikat. Jika itu produk alami, pastikan Anda membaca label bahan dengan hati-hati.
2. Tanggal pembuatan
Anda harus memperhatikan tanggal pembuatan produk makanan kemasan bayi sebelum membelinya. Karena, makanan kemasan itu mungkin sudah disimpan berbulan-bulan atau lebih lama dari usia bayi Anda.
Meskipun makanan kemasan itu belum lewat tanggal kadaluarsa dan masih aman dikonsumsi. Anda perlu mempertimbangkan kembali untuk memberi bayi Anda makanan tersebut. Lebih baik memberi anak makanan segar yang akan memberikan manfaat nutrisi utuh.
Baca Juga: Jangan Panik, Seperempat Penerima Vaksin Alami Efek Samping Sistemik
3. Kandungan gula
Saat mengecek label nutrisinya, periksalah produk makanan kemasan untuk bayi Anda memiliki kandungan gula tambahan atau tidak, seperti sakarin atau aspartam.
Selama beberapa tahun terakhir, muncul banyak kekhawatiran seputar kandungan gula dalam produk makanan bayi komersial . Sebuah studi terhadap 8000 merek di Eropa oleh WHO menemukan bahwa mayoritas produk mengandung lebih dari 30 persen kalori dari gula.
Padahal asupan gula yang berlebihan di awal kehidupan dapat memengaruhi gigi dan komplikasi terkait obesitas di masa dewasa.
4. Bahan kimia
Sebuah laporan baru-baru ini di Amerika Serikat menunjukkan bahwa banyak merek makanan bayi di AS memiliki kadar logam berat yang sangat tinggi. Cara ideal untuk menghindarinya adalah memilih produk organik dengan semua sertifikasi dan label yang tepat.
Meskipun sulit untuk memahami sepenuhnya apa yang ada dalam makanan bayi, penting untuk mengikuti uji klinis secara tuntas. Luangkan waktu untuk meneliti produk serta perusahaannya. Diskusikan dengan orangtua lainnya sebelum memutuskan untuk membeli produk makanan kemasan.
Berita Terkait
-
Denise Chariesta Ingin Bayi Tabung dengan Donor Sperma, Hukum Indonesia Mengizinkan?
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Bayi dan Anak Sebaiknya Pakai Sunscreen SPF Berapa? Ini Pilihan yang Aman Digunakan
-
Obsesi Epstein Bangun 'Pabrik Bayi' dengan Menghamili Banyak Perempuan
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
Tensi Tinggi! Jose Mourinho Boikot Konferensi Pers Jelang Real Madrid vs Benfica
-
Gunung Dempo Masih Waspada, Warga Pagaralam Diminta Jangan Abaikan Imbauan Ini
-
Alfamart-Indomaret Tak Boleh Ekspansi, Kopdes Merah Putih Prabowo Takut Tersaingi?
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi