Suara.com - Memiliki alergi tidak hanya menghambat produktivitas harian. Bagi sebagian orang, mengidap alergi juga berarti terbatasnya kegiatan olahraga yang bisa dilakukan..
Pengidap asma contohnya, akan sulit melakukan olahraga yang menguras tenaga, karena bisa mengalami sesak napas.
Salah satu reaksi umum yang disebabkan oleh alergi adalah hidung tersumbat, yang dapat berdampak pada kemampuan seseorang untuk tampil secara atletis dalam jangka waktu yang lama.
Olahraga juga dapat memperburuk gejala asma, yang meliputi rasa sesak, batuk, nyeri dada, dan sesak napas. Bahkan individu yang biasanya tidak menderita asma dapat menjadi korban asma akibat alergi yang terjadi saat berolahraga.
Hal serupa juga terjadi dengan para atlet ataupun para pecinta olahraga. Khusus untuk para atlet, mereka lebih rentan mengalami gejala alergi yang signifikan yang dipicu oleh paparan aeroalergen.
Respon alergi menyebabkan hidung dan saluran pernapasan tersumbat, kesulitan bernafas, rasa kelelahan dan perubahan mood yang kemudian mempengaruhi performa atletik. Bahkan, pada beberapa kasus alergi tidak hanya dapat mengganggu prestasi dan juga dapat berakhir dengan kematian.
Untuk itu kita harus mengenali terlebih dahulu apa yang terjadi pada tubuh kita saat terjadi alergi.
Spesialis Kedokteran Olahraga dari RS Mitra Kemayoran Jakarta dr Michael Triangto, SpKO menjelaskan alergi itu disebabkan oleh bahan alergen yang kontak dengan tubuh kita baik itu melalui kulit, oral, injeksi dan alergen tersebut menyebabkan tubuh memutuskan untuk membentuk anti terhadap alergen tersebut.
"Akibatnya akan tercetuslah proses peradangan yang dapat bermanisfestasi dalam bentuk kemerahan pada kulit, bengkak, gatal, sakit, sesak dan pada beberapa kasus akan menimbulkan efek lepuh pada kulit," jelas Michael dilansir ANTARA.
Baca Juga: Profil Terry Putri: Berkarier 25 Tahun, Harta Raib Digondol Maling
Michael menambahkan bila pembengkakan tersebut terjadi pada mukosa saluran pernafasan dapat menyebabkan sesak akibat penyempitan dari jalan nafas yang bila tidak tertangani dengan tepat dapat berpotensi menimbulkan kematian. Bila terjadi lepuh pada kulit telapak kaki tentunya dapat menggangu aktivitas latihan olahraga.
Lalu mengapa sebelumnya tubuh kita tidak mengalami gangguan terhadap alergen dan kini menjadi sensitif? Menurut Michael, hal ini dikarenakan tubuh kita yang awalnya tidak memberikan respon dengan alergen yang masuk. Namun seiring dengan intensnya paparan alergen dan kondisi tubuh kita, maka lama kelamaan akan menimbulkan keluhan yang nyata.
"Pada sejumlah orang, jenis olahraga di luar ruangan (outdoor) sering menimbulkan alergi terutama pada orang-orang yang sensitif misalnya rangsangan udara dingin, suhu panas, debu, serbuk sari yang dapat menyebabkan gatal-gatal, bersin bahkan sesak nafas," ujar Michael.
Sementara bagi mereka yang kerap kali berlatih di gym, alergi juga dapat terjadi pada mereka karena disebabkan oleh debu karpet, udara air conditioner yang tidak terawat baik ataupun akibat kontak dengan logam, karet, dan plastik yang menjadi bahan dasar pembuatan alat-alat olahraga.
Bagi atlet yang dipersiapkan untuk suatu kejuaraan tentunya timbulnya alergi akan membuat dia tidak mampu untuk berlatih dengan baik yang pada akhirnya dapat menyebabkan gagalnya meraih prestasi tertinggi.
Dalam jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh National Library of Medicine, hasil kolaborasi penelitian dari Diana Silva dari Centro Hospitalar de Sao Joao dan Andre Moreira dari University of Porto menyebutkan bahwa meskipun latihan dan olah raga memiliki beberapa manfaat, melakukannya secara berlebihan belum tentu merupakan hal yang baik.
Misalnya, atlet elit memiliki peningkatan risiko asma dan alergi. Beberapa mekanisme dapat memengaruhi risiko ini, yang meliputi interaksi antara faktor pelatihan lingkungan dan faktor risiko pribadi, seperti kerentanan genetik, peradangan yang dimediasi neurogenik, dan sensitivitas epitel.
Namun, banyak sekali bukti ilmiah yang menunjukkan efek positif olah raga sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Secara keseluruhan, manfaatnya jauh lebih besar daripada potensi bahaya pelatihan. Namun diperlukan intervensi gaya hidup sehat terapeutik yang mudah diberikan, yang dapat digunakan bersamaan dengan pengobatan saat ini. [ANTARA]
Berita Terkait
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Sengitnya Geliat Kompetisi Olahraga Antar-Kampus di Campus League 2026
-
Apakah Sepatu Slip-On Bisa untuk Olahraga? Ini 4 Rekomendasinya yang Cocok
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Tak Lagi Cuma untuk Olahraga, Ini Alasan Athleisure Makin Jadi Andalan Outfit Harian
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat