Suara.com - Bahaya penggunaan pewarna makanan kembali terungkap lewat studi terbaru dari Amerika Serikat.
Berdasarkan studi oleh peneliti dari School of Medicine Mount Sinai, Amerika Serikat, penggunaan pewarna makanan tertentu bisa memicu penyakit kolitis ulseratif, salah satu bentuk penyakit radang usus, ketika sistem imun tubuh sedang kacau.
Studi yang diterbitkan oleh Cell Metabolism mencoba mengungkap fenomena ini. Melansir dari Medical Express, studi yang dilakukan pada tikus menemukan bahwa tikus mengembangkan kolitis, ketika mengonsumsi makanan dengan pewarna buatan FD&C Red 40 dan Yellow 6 ketika sistem kekebalan yang disebut sitokin IL-23 mengalami gangguan.
Meski begitu, belum jelas apakah pewarna makanan akan memiliki efek yang sama pada manusia. Namun para peneliti terus menyelidiki secara tepat bagaimana sitokil IL-23 dapat mendorong perkembangan kolitis setelah mengkonsumsi pewarna makanan.
Kolitis merupakan bentuk penyakit radang usus (IBD), dengan gangguan sitokil IL-23 diketahui sebagai penyebabnya. Di sisi lain, pewarna makanan seperti Red 30 dan Yellow 6 paling banyak digunakan pada makanan, minuman, dan obat-obatan.
Baik secara genetik maupun faktor lingkungan sama-sama bisa menyebabkan penyakit radang usus. Namun, hubungan penyakit ini dengan faktor lingkungan masih terus diteliti.
Untuk penelitian tersebut, para peneliti membuat tikus mengalami gangguan sitokin IL-23. Yang mengejutkan, tikus dengan respon imun baik tidak mengalami kolitis meski diberi makanan dengan pewarna buatan.
Untuk membuktikan pewarna makanan dapat memiliki faktor penyakit, para peneliti memberi makan tikus yang diubah ke dalam diet tanpa pewarna makanan.
Pada kedua kasus tersebut, penyakit kolitis berkembang saat tikus mengkonsumsi makanan zat pewarna.
Baca Juga: Dikritik Karena Kuku Pendekor Kue Hitam, Ternyata Begini Penjelasannya
"Perubahan dramatis peningkatan penggunaan makanan olahan dan adiktif makanan, merupakan peningkatan kejadian penyakit inflamasi dan autoimun," ungkap peneliti senior Sergio Lira, MD, PhD, dari Immunology Institute Icahn Mount Sinai.
Ia mengatakan, perubahan lingkungan juga dianggap berkontribusi atas penyakit ini.
"Perubahan lingkungan ini dianggap berkontribusi pada penyakit ini. Namun relative sedikit yang diketahui. Kami berharap penelitian ini bisa melangkah dan memahami dampak pewarna makanan pada kesehatan manusia," ungkapnya.
Berita Terkait
-
Jangan Anggap Remeh! Diare dan Nyeri Perut Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Kronis yang Mengancam Jiwa
-
Radang Usus Kronik Meningkat di Indonesia, Mengapa Banyak Pasien Baru Sadar Saat Sudah Parah?
-
5 Pengobatan untuk Radang Usus dengan Obat Alami yang Terbukti Ampuh
-
Sering Nyeri Perut Bagian Bawah? Waspada Radang Usus Gara-Gara Salah Pola Diet
-
Apes! Target Curi BBM Eceran, Ternyata Isinya Air yang Diberi Pewarna Makanan
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi