Suara.com - Google akan meluncurkan fitur yang dapat membantu manusia mengenali kondisi kulit, rambut, dan kukunya, melalui foto yang diunggah oleh penggunanya. Alat ini menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Uji coba alat sudah diluncurkan dalam konferensi tahunan Google I/O pada Rabu (19/5/2021). Sementara alatnya sendiri akan diluncurkan tahun ini.
Berdasarkan laporan BBC, alat yang dijuluki "dermatology assist tool" ini sudah menerima tanda 'CE' sehingga sudah dapat digunakan sebagai alat medis di Eropa.
Alat berbasis AI ini dapat mengenai 288 kondisi kulit, terutama yang mengarah ke kanker. Namun, alat ini bukanlah pengganti diagnosis dan perawatan medis.
Dermatology assist ini sudah dilatih terhadap dataset berisi 65 ribu gambar dari berbagai macam diagnosis kondisi kulit, serta jutaan gambar yang menunjukkan gejala yang dikhawatirkan orang, dan ribuan gambar kulit yang sehat dalam semua tone dan warna kulit.
Selain menggunakan gambar, alat ini juga meminta pengguna untuk menjawab serangakaian pertanyaan secara online.
Perlu waktu tiga tahun untuk mengembangkan alat Google ini. Ide penciptaan alat didasarkan pada alat yang sudah dikembangkan sebelunya untuk mengenali gejala kanker dan tuberkulosis tertentu.
Kepala ilmu kanker di University of Southampton, Tim Underwood, mengatakan dermatology assist ini berpotensi memberikan perawatan yang lebih disesuaikan untuk pasien.
"Penerapan AI, baik pada kanker dan di bidang pengobatan lainnya, memberi informasi mengenai diagnosis dan perawatan apa yang ditawarkan kepada seseorang," kata Underwood.
Baca Juga: Desak CEO Google Dukung Palestina, Karyawan Beragama Yahudi Lakukan Ini
Menurut Google, menggunakan bantuan AI lebih baik daripada mencari informasi di banyak website untuk mendapat nasihat medis.
Apalagi banyak orang yang melakukannya. Google mencatat ada sekitar 10 miliar pencarian yang menggunakan kata kunci terkait masalah kulit, rambut, dan kuku, setiap tahunnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga