Suara.com - Pil kontrasepsi atau pil KB adalah pil berisi hormon yang digunakan untuk mencegah kehamilan. Namun mengonsumsinya tidak boleh sembarangan, lho, melainkan harus dengan resep dokter. Apalagi bila digunakan oleh perempuan dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi. Ini bisa berbahaya.
Hal tersebut diungkap langsung Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Gita Pratama, Sp.OG-KFER, M.RepSc.
"Pil KB itu adalah obat hormonal, dan harus berhati-hati untuk diberikan, jadi ada beberapa kondisi tertentu (seperti hipertensi) yang berpotensi terjadi kontra indikasi, sebaiknya tidak dilakukan pemberian," ujar dr. Gita dalam acara diskusi virtual Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Group, Kamis (27/5/2021).
Soal penggunaan pil KB yang berisiko hipertensi, kata dr. Gita, hal ini sudah banyak dibuktikan melalui penelitian. Disebutkan bahwa hipertensi berhubungan dengan kardiovaskular atau sakit jantung.
"Tekanan di pembuluh darah itu jadi meningkat kejadiannya, atau berisikonya pada pasien yang memakai pil KB," papar dr. Gita.
Berdasarkan kategori usia, dokter yang juga konsultan Fertilitas, Endokrinologi, Reproduksi di RS Pondok Indah IVF Centre itu menyarankan perempuan yang berusia 40 tahun ke atas, sudah memiliki masalah hipertensi atau sakit jantung, sebaiknya berhati-hati menggunakan pil KB.
"Jadi biasanya kita berikan kepada perempuan muda, di bawah 40 tahun yang sehat, itu kandidat yang baik untuk diberikan pil KB," pungkas dr, Gita.
Mengutip Alodokter, berikut berapa efek samping berbahaya akibat mengonsumsi Pil KB yang harus diwaspadai:
- Mual
- Flek atau perdarahan vagina di luar siklus menstruasi
- Volume darah menstruasi lebih sedikit dari biasanya
- Penurunan gairah seksual (libido)
- Perubahan suasana hati
- Sakit kepala ringan
- Payudara bengkak atau sakit ketika disentuh
Efek samping di atas biasanya akan membaik setelah beberapa bulan sejak konsumsi pil KB. Jika tidak kunjung mereda atau keluhan semakin memberat, lakukan pemeriksaan ke dokter.
Selain itu, Anda harus segera ke dokter jika mengalami efek samping yang lebih serius, seperti:
Baca Juga: Wajib Tahu, Begini Saran Dokter Untuk Cegah Serangan Jantung
- Sakit perut yang parah
- Penglihatan menjadi buram
- Sakit kepala berat
- Bengkak pada tungkai
- Nyeri dada
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
Terkini
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit