Suara.com - Kelainan genital atau alat kelamin pada anak merupakan sesuatu yang mudah dilihat, diraba, dan diobservasi dengan kedua mata.
Namun orangtua berperan penting untuk ikut mengenali kelainan genital anaknya, khususnya di dua tahun pertama kehidupan anak.
Orangtua bisa melakukan pengecekan adakah kelainan genital saat memandikan, mengganti popok hingga mengajari toilet training anak. Lantas, apa saja sih jenis kelainan genital anak yang perlu diketahui?
Berikut penjelasan Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI, Dr. Irfan Wahyudi, Sp.U (K), dalam acara diskusi virtual beberapa waktu lalu.
1. Testis yang tidak turun
Dikenal juga dengan undescensus testis atau kriptorkismus, yang terjadi pada 1 persen kelahiran anak laki-laki, dan merupakan kategori kelainan buah zakar.
Jika proses perkembangan buah zakar terganggu, testis akan di posisi yang tidak seharusnya. Di mana kntong zakar kanan dan kiri berbeda kerena satu terisi dan satunya kosong.
"Kondisi itu biasanya membaik dengan sendirinya. Meski begitu, volume dan ukuran testis perlu dipantau setahun sekali. Dengan bertambahnya usia, diharapkan volume testis juga bertambah," ujar dr. Irfan.
2. Kelainan pada penis
Jenis kelainan ini cenderung banyak dan beragam, salah satunya kelainan yang meliputi kulit penis mengikuti lubang atau dikenal sebagai fimosis.
Umumnya seiring perkembangan usia, 90 persen anak lelaki dengan fimosis, lubang kencing akan terbuka dan terlihat. Sehingga orangtua tidak perlu khawatir, tapi alat kelamin anak perlu juga diperhatikan.
Baca Juga: Cegah Kekerasan pada Anak, Orang Tua Bisa Manfaatkan Layanan Konsultasi Digital Ini
"Jika pada fase tersebut timbul infeksi (fimosis) sulit kencing, sampai membentuk balon gelembung saat anak buang air kecil, orang tua harus segera membawa anaknya ke dokter," jelas dr. Irfan.
Ada juga kelainan lain yakni penis tidak muncul atau buried penis, yaitu penis yang biasanya tertarik ke dalam perut.
"Orang tua biasanya menduga penis anaknya kecil, padahal sebenarnya tenggelam atau tertarik
oleh jaringan di bawah kulit," ungkap dr. Irfan.
Selanjutnya pengobatannya yang bisa dengan berbentuk sunat, tapi bukan sunat pada umumnya loh ya.
"Ini karena memerlukan teknik rekonstruksi khusus dengan cara membebaskan bagian yang menarik penis agar lepas. Kasus lainnya adalah lubang kencing tidak berada di ujung penis," pungkas dr. Irfan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh