Suara.com - Sebuah studi baru menunjukkan penderita diabetes yang memiliki masalah tidur, sebanyak 87 persen lebih mungkin mengalami kematian 9 tahun lebih cepat dibanding bukan penderita diabetes atau orang yang mengalami masalah tidur.
Studi yang terbit Selasa (8/6/2021) kemarin di Journal of Sleep Research ini menganalisis data dari hampir setengah juta peserta paruh baya di UK Biobank Study, yang menampung informasi genetik dan kesehatan penduduk Inggris.
Setelah mempertimbangkan masalah medis dan gaya hidup yang mungkin memengaruhi tidur, seperti usia, jenis kelamin, berat badan, merokok, depresi, dan kondisi lainnya, peneliti menemukan orang yang kurang tidur tetapi tidak menderita diabetes 11 persen lebih mungkin mengalami kematian dini, lapor CNN.
"Orang dengan diabetes tetapi tidak mengalami gangguan tidur, 67 persen lebih mungkin meninggal lebih cepat, dan 87 persen lebih mungkin cepat meninggal jika menderita diabetes dan sering mengalami gangguan tidur," kata penulis studi Kristen Knutson, profesor neurologi dan kedokteran pencegahan di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern Feinberg.
Knutson dan timnya juga membandingkan penderita diabetes yang tidur nyenyak dengan orang yang sering kurang tidur.
"Orang dengan diabetes yang kurang tidur, 12 % lebih mungkin meninggal selama sembilan tahun masa tindak lanjut dibandingkan penderita diabetes yang tidur tanpa gangguan tidur yang sering," sambung Knutson.
Asisten profesor kedokteran klinis di Keck School of Medicine di University of Southern California, Raj Dasgupta, menanggapi bahwa hasil temuan tersebut tidak mengejutkan.
"Diabetes adalah penyakit mematikan dan dapat dengan mudah memengaruhi tidur, atau sebaliknya. Apakah Anda kurang tidur karena diabetes Anda tidak terkontrol dengan baik atau apakah tidur yang buruh memperparah diabetes Anda?," ujar Dasgupta.
Misalnya, tambahnya, penderita diabetes tipe 2 cenderung kelebihan berat badan dan mungkin menderita apnea tidur obstruktif, yakni kondisi ketika otot tenggorokan rileks dan menutup saluran napas, sehingga mengganggu tidur.
Baca Juga: Perempuan yang Berat Badannya Naik Turun Berisiko Alami Gangguan Tidur
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- 5 Pilihan Mesin Cuci 2 Tabung Paling Murah, Kualitas Awet dan Hemat Listrik
Pilihan
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
Terkini
-
Tantangan Pasien PJB: Ribuan Anak dari Luar Jawa Butuh Dukungan Lebih dari Sekadar Pengobatan
-
Gen Alpha Dijuluki Generasi Asbun, Dokter Ungkap Kaitannya dengan Gizi dan Mental Health
-
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
-
Bandung Darurat Kualitas Udara dan Air! Ini Solusi Cerdas Jaga Kesehatan Keluarga di Rumah
-
Bahaya Pencemaran Sungai Cisadane, Peneliti BRIN Ungkap Risiko Kanker
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026