Suara.com - Setiap orang yang terpapar virus corona tidak selalu akan terinfeksi Covid-19. Hal tersebut dikatakan seorang Epidemiolog dari Universitas Negeri Solo - Tonang Dwi Ardyanto.
Kata Tonang, istilah terpapar dan terinfeksi memiliki pengertian yang berbeda.
"Terpapar itu artinya ada virus masuk tubuh kita. Untuk covid, berarti virus masuk saluran napas kita. Utamanya di hidung. Begitu masuk, barrier alami tubuh akan berusaha menghambat virus. Ada banyak lekukan, cekungan, tonjolan, lendir dan rambut-rambut halus yang menghambat virus," jelas Tonang dikutip dari tulisannya di media sosial, Minggu (27/6/2021).
Sebagian besar virus akan tertahan di rongga hidung. Sebagian lagi terbawa keluar saat menghembuskan napas, terutama bersin di mana virus-virus itu akan terlontar.
Kondisi itu yang berisiko menyebarkan ke sekitar, lanjut Tonang. Oleh sebab itu, ia mengatakan bahwa terpapar belum berarti telah terinfeksi virus.
"Bila dilakukan pemeriksaan PCR atau antigen, hasilnya akan negatif. Kejadian seperti ini, kemungkinan sering terjadi setiap hari. Kita terpapar virus SARS CoV 2, tapi mampu kita halau. Tidak sampai terjadi infeksi," ucapnya.
Hanya ada kalanya, jumlah virus yang masuk terlalu banyak, sehingga masih ada yang bisa lolos dari barrier alami hingga bergerak masuk ke nasofaring yang juga terdapat mukosa.
"Di situ terjadi hambatan oleh beberapa zat anti mikroba. Maka sebagian virus akan tertahan lagi, sebagian mati karena anti mikroba," imbuhnya.
Menurutnya, kondisi seperti itu juga diduga cukup sering terjadi. Tapi masih berhasil dihalau keluar melalui napas, batuk atau bersin.
Baca Juga: Fakta di Balik Bapak-bapak Peluk Nakes Wanita saat Divaksin, Ternyata...
Termasuk yang masih hidup juga bisa ikut terbawa keluar. Dalam proses itu juga masih berisiko menyebarkan ke sekitar.
Ada kalanya jumlah virus yang sampai mukosa masih relatif banyak, hanya sebagian yang bisa ditahan, maka masih ada virus yang masih berhasil menembus mukosa. Kelompok ini yang akan berikatan dengan reseptor di sel-sel nasofaring.
Tonang mengatakan bahwa kondisi itu lah yang disebut telah terinfeksi. Maka apabila dilakukan tes PCR atau antigen, hasilnya akan positif.
"Akibat infeksi ini memicu peradangan (inflamasi). Akibat inflamasi itu sistem imunitas bawaan akan bereaksi berusaha menahan penyebaran virus. Bila jumlahnya sedikit, maka dapat saja segera bersih. Tapi bila jumlahnya masih relatif banyak, terjadi reaksi peradangan yang signifikan. Seberapa besar skala reaksi ini yang akan menentukan derajat timbulnya gejala," paparnya.
Pada sebagian orang, proses tersebut bisa tidak menyebabkan gejalanya. Sebagian lagi hanya terasa ringan. Tetapi bila gejala semakin signifikan, maka akan terasakan oleh orang yang terinfeksi. Saat itulah baru disebut sakit, kata Tonang.
Seberapa berat kondisi sakit, ditentukan bagaimana kondisi tubuh akibat respon imun yang terjadi. Bisa tanpa gejala, ringan, sedang, berat, hingga kritis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
Terkini
-
Mengenal Ultra Low Contrast PCI, Pendekatan Tindakan Jantung yang Lebih Ramah Ginjal
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini