Suara.com - Anda penyuka cokelat namun takut berat badan bertambah? Tak perlu khawatir. Sebab, penelitian terbaru justru mengatakan sebaliknya.
Lewat studi yang yang diterbitkan oleh The FASEB Journal, peneliti dari Brigham yakni Frank A. J. L. Scheer Ph.D, MSc dan Marta Garaulet, Ph.D, melakukan uji coba silang acak terhadap 19 wanita pascamenopause yang mengonsumsi 100 gram cokelat di pagi hari dan malam hari.
Ditemukan bahwa cokelat bisa membantu membakar lemak sekaligus menurunkan kadar gula darah.
"Temuan kami menyoroti bahwa apa yang kita makan, dapat memengaruhi mekanisme fisiologis yang terlibat dalam pengaturan berat badan,” ungkap Frank, dilansir Medical Express.
"Relawan kami tidak menambah berat badan, meski asupan kalorinya meningkat. Hasil kami menunjukkan, cokelat mengurangi asupan energi,” ungkap Marta Garaulet, Ph.D.
Sejumlah temuan lainnya oleh peneliti antara lain:
- Mengonsumsi cokelat di pagi hari dan malam hari tidak menyebabkan penambahan berat badan.
- Mengonsumsi cokelat di pagi hari dan sore hari, dapat menangkal rasa lapar dan nafsu makan.
- Mengonsumsi cokelat dengan kadar tinggi di pagi hari, membantu membakar lemak dan mengurangi kadar glukosa darah. Sedangkan di jam sore, cokelat bisa mengubah metabolisme istirahat dan olahraga.
Selain membakar lemak dan menurunkan kadar gula darah, cokelat memiliki manfaat yang lainnya.
Dilansir dari AloDokter, berikut empat manfaat cokelat yang aman untuk dikonsumsi.
Meningkatkan mood
Baca Juga: Orang Ini 3 Bulan Berhasil Berhenti Merokok, Ternyata Rahasianya Selai Cokelat Jadul
Manfaat cokelat ini juga bisa meningkatkan mood seseorang. Dikatakan, cokelat mampu menurunkan kadar hormon kortisol akibat stres.
Sehingga mengonsumsi cokelat bisa meningkatkan serotonin.
Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah
Kandungan flavonoid pada cokelat mampu melancarkan aliran darah. Selain itu, efek dari cokelat ini juga mampu mencegah penyakit stroke maupun jantung.
Walaupun, masih ada penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas cokelat dalam mencegah stroke.
Memelihara kesehatan otak
Berita Terkait
-
Dikritik Pedas Soal Cokelat Premium, Aurel Hermansyah: Menurutku Itu Kasar
-
Promosi Cokelat Premium Murah, Aurel Hermansyah Dituding Lakukan Pembohongan Publik
-
Menjemput Bahagia di Sudut Cik Di Tiro: Pelarian Manis di Coklat Cafe
-
Lipstik Warna Cokelat Cocok untuk Kulit Apa? Ini 5 Rekomendasinya yang Elegan
-
Ada Hormon Serotonin di Balik Kebahagiaan yang Muncul Saat Makan Es Krim Cokelat
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal