Suara.com - Baru-baru ini, nama dokter Faheem Younus menjadi sorotan warganet Twitter. Pasalnya dalam beberapa hari belakangan ia memberikan perhatian khusus terkait kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia.
Bahkan, dokter Faheem Younus, juga menulis serangkain twit edukasi mengenai Covid-19 dengan bahasa Indonesia. Hal itu membuatnya semakin dikenal luas di kalangan media sosial Twitter warga Indonesia.
Tapi siapa sebenarnya dokter Faheem Younus itu? Dilansir dari situs University of Maryland Medical System, berikut ini profil dokter Faheem Younus.
Dokter Faheem Younus menempuh sekolah kedokteran di King Edward Medical University, pada tahun 1995. Ia juga menuntaskan residensinya di Pusat Medis Monmouth, 1999
Dokter Faheem Younus adalah dokter pemenang penghargaan dan eksekutif dokter bersertifikat (CPE) yang memimpin program kualitas dan keamanan Kesehatan Universitas Maryland Upper Chesapeake.
Dia telah memberikan visi untuk mengembangkan dan mempertahankan keselamatan pasien dan program kualitas di UM Harford Memorial dan UM Upper Chesapeake Hospitals (~300 tempat tidur).
Faheem Younus juga memberikan pengawasan strategis untuk program pengalaman pasien.
Dia adalah ahli manajemen perubahan, bahkan dihormati karena kemampuannya untuk mengubah dan menyelaraskan tim multidisiplin.
Younus berulang kali dipilih oleh rekan-rekannya untuk menerima penghargaan "Dokter Terbaik" yang diberikan setiap tahun oleh Majalah Baltimore.
Baca Juga: Gawat! 96 Daerah di Indonesia Zona Merah Covid-19, Ini Daftarnya
Dia juga menerima "Penghargaan Layanan Kepresidenan" dari pemerintahan Obama pada tahun 2008 untuk layanan kemanusiaannya. Dia adalah penulis banyak artikel peer-reviewed.
DI University of Maryland sendiri, ia menjabat sebagai Chief Quality Officer. Ia memimpin inisiatif kualitas utama di University of Maryland Upper Chesapeake Hospital dan University of Maryland Harford Memorial Hospital.
Dr. Younus memberikan visi untuk keselamatan pasien dan memimpin program penatagunaan antibiotik. Dia mengawasi program Maryland Hospital Acquired Conditions (MHAC), memberikan panduan untuk mengurangi infeksi yang didapat dari layanan kesehatan, dan mengelola tim yang berfokus pada pengurangan angka kematian di rumah sakit.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun