Suara.com - Pasien Covid-19 anak juga bisa mengalami penyakit penyerta alias komorbid, yang bisa memperparah kondisinya ketika terinfeksi.
Pakar mengatakan penyakir komorbid inilah yang menjadi penyebab meningkatnya angka pasien Covid-19 anak yang meninggal dunia.
"Pada saat bersamaan, saat meningkat kasusnya, banyak sistem (kesehatan) kita colaps. Ruang rawat anak tidak ada dan akhirnya pada saat bersamaan ada beberapa kasus, kita belum lihat lagi semuanya dalam 3 sampai 4 minggu terakhir, tapi ada beberapa kasus yang kita tidak jelas apa komorbidnya. Ini kan yang harusnya kita lihat kenapa bisa seperti itu," kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) prof. dr. Aman Pulungan, Sp.A., saat siaran langsung Instagram bersama RSCM Kencana, Jumat (33/7/2021).
Padahal beberapa komorbid yang dialami anak itu bisa dicegah, salah satunya obesitas.
"Obesitas itu kan bisa kita intervensi. Kenapa anak kita harus obes? Jadi pastikan mulai saat ini, jangan pernah ada anak Indonesia yang obes, apalagi pada saat pandemi," tegasnya.
Selain itu, hipertensi dan potensi diabetes juga terjadi pada anak. Dokter Aman mencatat, di Jakarta saja ada lebih dari 30 persen siswa SD yang mengalami hipertensi. Juga lebih dari 10 persen mengalami insulin resistansi yang akan berisiko menjadi diabetes.
Komorbid lainnya, yakni tuberkolosis atau TBC. Di sisi lain, kasus TBC Indonesia secara keseluruhan memang masih tinggi, bahkan peringkat kedua terbanyak di dunia.
"Tolonglah, ayah, bunda semua, ini kan bisa dicegah. Satu, anak tidak boleh obes. Kedua, pastikan anak juga tidak terinfeksi TBC, ini kan kita bisa tahu, bisa dilihat dari kontak apakah dari riwayatnya dengan konsultasi ke dokter anak," ucapnya.
Berbagai komorbid itu belum termasuk dengan penyakit bawaan kronik yang telah diidap anak-anak sebelum terjadi pandemi Covid-19. Seperti, penyakit jantung, kanker anak, cerebral palsy, hingga ginjal.
Baca Juga: Sering Sakit Pinggang? Berikut 5 Penyebabnya Namun Sering Disepelekan
Pada beberapa kasus bahkan bisa ditemukan anak yang terinfeksi Covid-19 dengan komorbid lebih dari satu.
"Kita dapat beberapa kasus. Jadi dia kompleks, ada TBC, ada penyakit jantung, dan ada juga malnutrisi. Apa yang bisa kita lakukan, kita intervensi. Kalau misalnya malnutrisi karena penyakit lain, yang harus kita intervensi adalah penyakit lainnya. Tetapi kalau ternyata misalnya memang malnutrisi murni, ya malnutrisi harus kita intervensi," terang dokter Aman.
Selain mencegah anak dari infeksi Covid-19, dokter Aman menekankan bahwa banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mencegah anak jangan sampai memiliki komorbid. Sehingga, kalaupun anak terinfeksi virus corona itu, namun gejalanya hanya ringan.
Data pada IDAI tercatat bahwa satu bulan lalu, angka kematian Covid pada anak rata-rata 5-15 orang per minggu. Namun dalam tiga pekan terakhir naik pesat hingga lebih dari 100 anak setiap minggu.
Dokter Aman menyayangkan adanya peningkatan data tersebut. Sebab, menurutnya, risiko kematian anak akibat Covid telah menurun dibanyak negara lain.
"Kita sudah mengatakan sejak lama, TBC kita banyak, obesitas kita meningkat, tidak ada yang mau mendengar. Dan sekarang lagi pada saat pandemi angka obesitas kita malah meningkat," sesal dokter Aman.
Berita Terkait
-
Fenomena Food Noise yang Bikin Indonesia Peringkat ke-3 di Asia Tenggara
-
5 Terapi Obesitas yang Mulai Banyak Digunakan, dari Diet hingga Balon Lambung
-
Usaha Keras Ery Makmur Pangkas 30 Kg, Kini Emosi Steven Wongso Katai Orang Gendut 'Anjing'
-
Prevalensi Obesitas Naik, Pendekatan Medis Terintegrasi Jadi Harapan Baru di Jakarta
-
Beda Kelas! Saat Steven Wongso Jadikan Obesitas Bahan Hinaan, Ade Rai Justru Bongkar Bahayanya
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
BPOM Catat 10 Kematian Akibat Campak, Akses Vaksin Inovatif Dikebut
-
15 Tanaman Penghambat Sel Kanker Menurut Penelitian, dari Kunyit hingga Daun Sirsak
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa