Amigdala di otak yang bertanggung jawab atas respons 'lawan atau lari' emosional kita muncul ketika kita merasa terancam.
Ketika kita kurang tidur, amigdala dalam siaga tinggi dan oleh karena itu siap untuk bereaksi kuat dan cepat terhadap situasi yang tidak memerlukan respons emosional yang besar.
"Kamu dapat menemukan dirimu menendang respons 'melawan' pada hal-hal terkecil, membuatmu tampak tidak rasional bagi orang-orang di sekitarmu," kata dia.
3. Lebih argumentatif
Ketika kamu lebih mudah marah karena kurang tidur, kamu juga lebih mungkin untuk memulai pertengkaran, kata Jess.
Tidur memungkinkan waktu otak untuk beristirahat dan memulihkan diri. Tapi ketika kamu tidak mendapatkan cukup tidur, kamu akan merasa lebih sulit untuk berhenti sejenak dan merasionalisasi situasi.
"Campuran dari respons "melawan" yang tinggi bersama dengan kurangnya kontrol diri adalah ramuan berbahaya ketika berhubungan dengan interaksi dengan orang lain", kata Jeff.
Alih-alih mampu mengendalikan amarah kita, kita bisa kehilangan kendali dan mendapati diri kita berkelahi dengan pasangan, teman, kolega atau bahkan orang asing (kemarahan di jalan dll), tambahnya.
4. Menjadi negatif
Baca Juga: Tidur di Rel, Pria di Sumut Tewas Ditabrak Kereta Api
Orang-orang yang positif lebih menyenangkan berada di dekatmu, tetapi walaupun kamu biasanya merasa mudah untuk melihat hal-hal baik dalam hidup, kurang tidur dapat dengan cepat membuatmu menjadi orang yang negatif.
"Orang yang kurang tidur lebih cenderung menganggap rangsangan emosional, (interaksi pribadi dengan orang lain, acara sosial, situasi kerja) lebih buruk daripada yang sebenarnya," ujarnya.
Penelitian telah menemukan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam reaksi emosional, membuat kita kurang tenang dan fleksibel dalam pikiran kita, dan malah membuat kita memiliki pandangan yang lebih negatif terhadap kehidupan secara keseluruhan.
5. Lebih cemas
Penelitian telah menemukan bahwa malam tanpa tidur menyebabkan tingkat kecemasan melonjak hingga 30 persen. Di sisi lain, penelitian yang sama menemukan bahwa tingkat kecemasan turun setelah tidur semalaman.
Ketika kamu tidak cukup tidur, kaki otak berada di pedal akselerator emosional dan tidak memiliki akses ke rem - yang berarti tingkat kecemasan meroket.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?