Suara.com - Risiko kematian yang menghantui pasien depresi bisa turun dengan berhenti merokok. Benarkah demikian?
Baru-baru ini, temuan dari tim peneliti Yale School of Public Health menyebut risiko bunuh diri pasien depresi bisa berkurang dengan berhenti merokok. Benarkah demikian?
Temuan dari peneliti menyebut berhenti merokok dapat menyelamatkan lebih dari 125.000 nyawa dalam 80 tahun ke depan. Jumlah ini bisa melonjak menjadi 203.000 orang, jika skala diperluas bagi pasien yang belum melakukan perawatan kesehatan mental.
Melansir dari Medical Express, peneliti menggarisbawahi potensi manfaat berhenti merokok, pada populasi yang terimbas dampak buruk penyakit yang berhubungan dengan tembakau. Ini juga adalah studi pertama yang mencoba melihat efek terapi berhenti merokok pada perawatan kesehatan mental.
Untuk membangun model studi ini, para peneliti menggunakan data 10 tahun yang dimiliki National Survey On Drug Use and Health. Kemudian, para peneliti menggunakan model ini untuk melihat efektivitas pengobatan berhenti merokok di masa depan, juga menilai bagaimana variasi tersebut memengaruhi tingkat adopsi pengobatan yang berbeda selama 80 tahun ke depan.
Para peneliti mengungkapkan, kematian bisa turun hingga 32.000 pada tahun 2100, jika jumlah besar ini diikuti dengan pengobatan depresi sekaligus pengobatan berhenti merokok.
Dengan 100 persen pemanfaatan layanan kesehatan mental dan pengobatan berhenti merokok dengan obat, jumlah potensi nyawa yang bisa diselamatkan bisa meeningkat menjadi 203.000 populasi.
“Kami sudah lama mengetahui bahwa orang dengan depresi dan aktif merokok lebih banyak daripada populasi umum. Dan pengaturan perawatan kesehatan mental, seringkali tidak memiliki pengobatan berhenti merokok sebagai bagian dari perawatan standar,” ungkap profesor dan penulis studi utama, Jamie Tam, PhD.
Studi yang terbit di Americcan Journal of Preventive Medicine ini mengungkapkan bahwa kombinasi pengobatan berhenti merokok dan perawatan kesehatan mental bisa menjadi cara terbaik mencegah kematian pada pasie depresi.
Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Saat Ini Usia Remaja Rawan Depresi
Para peneliti menjelaskan, hasil model ini sejalan dengan apa yang sudah diprediksi sejak lama oleh para ahli kesehatan masyarakat, bahwa terapi berhenti merokok bisa menjadi bagian rutin dari perawatan kesehatan mental.
Studi a juga menunjukkan, perawatan berhenti merokok yang kurang optimal bisa membuat dampak yang cukup besar pada kualitas hidup mereka, sehingga pasien lebih lama hidup dengan depresi.
“Selain mengurangi risiko kematian dini, berhenti merokok bisa meningkatkan kualitas hidup sekaligus produktivitas,” tambah Jamie Tam.
Studi menyimpulkan, perawatan sementara yang ada seperti terapi penggantian nikotin, varenicline, dan bupropion, dapat meningkatkan pasien berhenti merokok sebesar 60 persen. Keuntungan ini akan lebih besar jika perawatan ini lebih efektif di masa mendatang.
Tag
Berita Terkait
-
Kasus Anak di Sukabumi Meninggal Disiksa Ibu Tiri, Ibu Kandung Depresi karena Diteror
-
Analisis Pola Depresi dalam Film Rumah untuk Alie: Luka Akibat KDRT
-
Buku Lost Connections: Depresi Tak Sekadar Masalah Otak, tetapi Cara Hidup
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Alasan Bertahan di Balik Depresi
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga