Suara.com - Menstruasi bukan hanya soal keluarnya darah, namun juga berbagai keluhan yang lain. Yang paling dikenal mungkin adalah pramenstruasi sindrom (PMS), tapi taukah Anda soal PMDD?
Melansir dari Heathshots, premenstrual dysphoric disorder (PMDD) adalah bentuk PMS yang lebih parah. Kondisi ini bahkan bisa meyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, perasaan ingin bunuh diri, dan keputusasaan.
Semua perempuan tahu bahwa selain kembung dan kelelahan, suasana hati sering terganggu sebelum menstruasi. Jadi, jika Anda merasa bahwa PMSmembuat Anda merasa gelisah atau mudah tersinggung, maka Anda tidak sendirian.
Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa permainan hormonal yang menjadi ciri siklus menstruasi tidak hanya mempengaruhi kita secara fisik tetapi juga memiliki efek nyata pada kesehatan mental. Secara teknis, ini dikenal sebagai gangguan PMDD.
Ada saat-saat tertentu ketika suasana hati berubah karena PMS sangat parah dan dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari Anda. Dalam hal ini, Anda mungkin Anda mengalami versi PMS yang lebih agresif yang dikenal sebagai gangguan disforik pramenstruasi atau PMDD.
Kondisi tersebut mempengaruhi sekitar 10 persen perempuan di tahun-tahun menstruasi mereka.
Efek fisik dari PMDD adalah kelelahan parah, sakit kepala, atau migrain. Mereka juga mengalami nyeri pada persendian, dan nyeri di payudara.
Meski gejala fisik hampir sama dengan PMS, gejala PMDD lebih berefek kesehatan mental yang kadang sampai mempengaruhi kehidupan pribadi dan profesional Anda. M
asalah mental yang sering muncul adalah serangan kemarahan yang ekstrem hingga pikiran untuk bunuh diri. PMDD menyebabkan perubahan suasana hati tertentu yang memerlukan perhatian medis.
Baca Juga: Waspadai 10 Kebiasaan yang Bisa Merusak Kesehatan Mentalmu!
Penyebab pasti PMDD belum diketahui tetapi diyakini bahwa fluktuasi hormon selama siklus menstruasilah yang berpotensi mempengaruhinya.
Memang normal jika kadar estrogen turun dan kadar progesteron meningkat setelah ovulasi dan sebelum Anda memulai menstruasi.
Tapi, PMDD mungkin membuat tubuh Anda bereaksi secara tidak normal terhadap siklus normal ini.
Perubahan hormonal ini sering kali dapat memicu kekurangan serotonin yang sering disebut sebagai hormon bahagia. Tubuh dan otak kita membutuhkan serotonin untuk menstabilkan suasana hati, meningkatkan perasaan positif dan mengatur nafsu makan.
Yang membedakan PMDD dari gangguan mood lainnya atau PMS sederhana adalah waktu mulainya gejala dan berapa lama seseorang mengalaminya. Gejala-gejala ini dapat dimulai sedini dua minggu sebelum Anda menstruasi dan mulai menghilang hanya beberapa hari setelah menstruasi Anda
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga