Suara.com - Sejumlah negara kini tengah mulai memberikan vaksin Covid-19 dosis ketiga booster untuk warganya. Indonesia sendiri mulai memberikan vaksin booster untuk tenaga kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia menyerukan moratorium suntikan ketiga di tengah kekhawatiran tentang pasokan vaksin ke negara-negara miskin, di mana jutaan orang belum menerima suntikan pertama mereka.
Tapi, sebuah studi yang diterikan jurnal The Lancet, caksin cukup efektif untuk mencegah kasus Covid-19 yang parah sehingga tidak ada kebutuhan saat ini bagi populasi umum untuk diberikan dosis ketiga,
Laporan baru oleh para ilmuwan, termasuk dari WHO, menyimpulkan bahwa bahkan dengan ancaman varian Delta, "dosis booster untuk populasi umum tidak sesuai pada tahap pandemi ini".
Para penulis, yang meninjau studi observasional dan uji klinis, menemukan bahwa vaksin tetap sangat efektif melawan gejala Covid-19 yang parah, di semua varian virus utama termasuk Delta, meskipun keberhasilannya lebih rendah dalam mencegah kasus penyakit tanpa gejala.
“Secara keseluruhan, penelitian yang tersedia saat ini tidak memberikan bukti yang kredibel tentang penurunan perlindungan secara substansial terhadap penyakit parah, yang merupakan tujuan utama vaksinasi,” kata penulis utama Ana-Maria Henao-Restrepo, dari WHO.
Dia mengatakan dosis vaksin harus diprioritaskan kepada orang-orang di seluruh dunia yang masih menunggu suntikan.
“Jika vaksin dikerahkan di tempat yang paling baik, mereka dapat mempercepat akhir pandemi dengan menghambat evolusi varian lebih lanjut,” tambahnya.
Negara-negara seperti Prancis telah mulai mendistribusikan suntikan ketiga kepada orang tua dan orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah, sementara Israel telah melangkah lebih jauh, menawarkan anak-anak berusia 12 tahun ke atas dosis ketiga lima bulan setelah menerima suntikan kedua.
Baca Juga: Hits Health: Ayam Petelur Kandang Baterai, Bahaya Pilih-Pilih Merek Vaksin Covid-19
Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus telah meminta negara-negara untuk menghindari memberikan vaksin Covid-19 tambahan hingga akhir tahun karena badan kesehatan PBB mendesak semua negara untuk memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasi mereka pada akhir bulan ini, dan setidaknya 40 persen hingga akhir tahun ini.
Studi Lancet menyimpulkan bahwa varian saat ini belum cukup berkembang untuk menghindari respon imun yang diberikan oleh vaksin yang saat ini digunakan.
Para penulis berpendapat bahwa jika mutasi virus baru muncul yang mampu menghindari respons ini, akan lebih baik untuk memberikan booster vaksin yang dimodifikasi secara khusus yang ditujukan untuk varian yang lebih baru, daripada dosis ketiga dari vaksin yang ada.
Mengomentari studi Azra Ghani, Ketua Epidemiologi Penyakit Menular, di Imperial College London, menggambarkannya sebagai "tinjauan yang sangat menyeluruh" dari penelitian saat ini.
Tetapi dia mengatakan bahwa meski pengurangan kemanjuran vaksin terhadap varian seperti Delta mungkin kecil, ketika dipertimbangkan di seluruh populasi, hal itu masih dapat menyebabkan “peningkatan substansial” pada orang yang membutuhkan rawat inap.
“Bahkan di negara-negara paling maju, perbedaan kecil ini dapat memberikan tekanan yang parah pada sistem kesehatan,” katanya dalam sebuah pernyataan kepada Science Media Center, seraya menambahkan tidak ada pendekatan “satu ukuran untuk semua” untuk vaksin penguat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?