Suara.com - Sayuran adalah komponen penting dalam makanan sehari-hari yang memiliki banyak manfaat kesehatan. Tetapi, beberapa sayuran bisa menimbulkan risiko kesehatan tak terduga jika salah mengonsumsinya.
Salah satunya, rhubarb yang merupakan sayuran dengan banyak manfaat kesehatan, terutama bila Anda mengonsumsi batangnya. Sedangkan, daun tanaman ini justru mengandung bahan kimia asam oksalat yang beracun.
Menurut laporan Perpustakaan Kedokteran Nasional AS, keracunan daun rhubarb terjadi ketika seseorang mengonsumsi potongan daun dari tanaman rhubarb.
Selain mengandung asam oksalat, daun rhubarb juga mengandung glikosida antrakuinon, yang diduga beracun dan membahakan kesehatan tubuh.
Asam oksalat juga bisa ditemukan pada bayam, kubis brussel, kembang kol dan brokoli tetapi dalam konsentrasi yang lebih rendah. Menurut Ohio State University, asam oksalat dalam daun rhubarb sendiri cukup tinggi kadarnya, yakni sekitar 0,5 gram per 100 gram daun rhubarb.
Meskipun, dosis mematikan asam oksalat yang disarankan sekitar 15-30 gram. Artinya, Anda harus makan beberapa kilogram daun rhubarb untuk mencapai dosis tersebut.
Tapi, dosis asam oksalat yang lebih rendah masih bisa menyebabkan mual dan muntah. Adapun gejala keracunan asam oksalat, antara lain:
- Kelemahan
- Rasa terbakar di mulut
- Kematian Akibat kolaps kardiovaskular
- Kesulitan bernapas
- Tenggorokan dan mulut terasa seperti terbakar
- Sakit perut
- Mual dan muntah
- Diare
- Kejang
- Koma
Gejala keracunan antrakuinon termasuk iritasi kulit, iritasi mata dan perubahan warna urine. Laporan anekdot tentang keracunan dari daun rhubarb cukup mengerikan.
Pada tahun 1919, seorang dokter di Helena, Montana menulis dalam Journal of American Medical Association tentang kasus seorang istri muda yang mendadak pucat, kelelahan, dan muntah-muntah.
Baca Juga: Gejala Radang Amandel dan Virus Corona Covid-19 Mirip, Ini Cara Membedakannya!
Karena wanita itu sedang hamil, dokter pun menemukan hasil konsepsi lengkap dari perkembangan sekitar enam Minggu. Mereka menemukan bahwa plasenta wanita itu tidak berdarah dan tidak ada pula darah yang menggumpal. Tapi, ia meninggal beberapa jam dengan pendarahan melalui hidung.
Ternyata, ia sempat mengonsumsi batang dan daun rhubarb untuk makan malam sebelumnya. Saat itu, ia makan cukup banyak daun rhubarb dan suaminya hanya sebagian kecil.
Kemudian, ia menjadi sangat lemah dan pusing hingga dilarikan ke rumah sakit. Dokter pun menduga bahwa wanita itu telah keracunan asam oksalat dalam jumlah besar yang ada dalam rhubarb.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga