Suara.com - Vaksin Covaxin menjadi salah satu vaksin Covid-19 pertama di India yang mendapatkan persetujuan untuk penggunaan darurat. Berdasarkan Rekomendasi SEC (Subject Expert Committee), vaksin Covid-19 ini telah disetujui secara selektif untuk digunakan pada anak-anak usia 2-18 tahun.
Saat ini dilansir dari Times of India, para ahli sedang menunggu izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa vaksin Covaxin tersebut merupakan vaksin dari virus corona Covid-19 asli yang tidak aktif dan dikembangkan oleh Bharat Biotech.
Vaksin Covaxin ini pun akan diluncurkan untuk anak-anak secara bertahap, terutama untuk anak-anak yang memiliki komorbiditas atau penyakit bawaan.
Pada anak-anak, vaksin Covid-19 ini bisa bekerja efektif yang diberikan sebagai dua dosis dengan jeda waktu 28 hari. Meskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak mungkin membutuhkan vaksin Covid-19 dosis tunggal atau lebih rendah dibandingkan dewasa.
Walaupun vaksin Covaxin ini terlihat hanya memiliki lebih sedikit efek samping dari vaksin Covid-19 lainnya, tetap ada efek samping yang paling umum, termasuk gejala mirip flu.
Karena efek samping setelah suntik vaksin dianggap sebagai cara tubuh membangun kekebalan, beberapa efek sampingnya bisa hilang dalam waktu 2-3 hari, seperti demam, nyeri di tempat suntikan, mengantuk, kemerahan, nyeri tubuh dan kelelahan.
Sejauh ini, efek samping dan reaksi yang merugikan dari vaksin Covaxin belum ditemukan. Anak-anak yang memiliki kepekaan atau reaksi buruk sebelumnya terhadap vaksin Covid-19 mungkin membutuhkan perawatan medis lebih.
Orang dengan gangguan kekebalan bisa membuat beberapa orang rentan untuk memiliki respons yang tidak efisien terhadap vaksin Covid-19 dan tidak mendapatkan respons yang tepat.
Komorbiditas dan kepekaan tertentu juga dapat membuat beberapa orang ragu-ragu untuk suntik vaksin Covid-19. Tapi, anak-anak yang berisiko harus disuntik vaksin Covid-19 secepatnya.
Baca Juga: Studi CDC: Vaksin Covid-19 Pfizer Efektif 93 Persen Cegah Sakit Parah Pada Usia Remaja
Karena, tidak suntik vaksin Covid-19 bisa menempatkan mereka pada risiko infeksi virus corona Covid-19 parah yang lebih besar dan mengalami komplikasi, seperti MIS-C.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
Terkini
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan